Sabtu, 01 Juni 2013

stola

Stola
Image
Stola  adalah  vestimentum  liturgis dari berbagai  denominasi  Kristen . Stola berupa sehelai selempang kain dengan bordiran, dulunya berbahan dasar  sutra , panjangnya sekitar tujuh setengah sampai sembilan kaki dan selebar tiga sampai empat inci, makin ke ujung makin lebar.
Etimologi dan SEJARAH 
Kata  Latin  stola  berasal dari kata  Yunani  στολη ( stole ), "pakaian", arti aslinya adalah "tatanan" atau "kelengkapan".
Stola pertama merupakan semacam syal yang dikenakan menutupi bahu dan menjuntai di bagian depan tubuh; syal yang dikenakan kaum wanita memang sangat besar ukurannya. Setelah dialihgunakan oleh Gereja Roma sekitar abad ke-7 (stola juga telah dipergunakan oleh gereja lokal lain sebelumnya), bentuk stola makin lama makin menyempit dan dipenuhi hiasan karena stola dikembangkan menjadi semacam tanda kehormatan. Kini stola biasanya lebih lebar dan dapat dibuat dari berbagai jenis bahan.
Ada banyak teori mengenai "leluhur" stola. Ada yang berpendapat bahwa stola berasal dari  tallit (mantel sembahyang Yahudi), karena kemiripannya dengan tata cara penggunaan tallit saat ini (pemimpin ibadah Yahudi mengerudungi kepalanya dengan tallit pada saat memimpin doa) tetapi teori ini sudah tidak dipergunakan lagi sekarang. Teori yang lebih populer adalah bahwa stola berasal dari semacam kain lap liturgis yang disebut orarium dan sangat mirip dengan sudarium. Kenyataanya, di banyak tempat stola disebut orarium. Oleh karena itu stola dihubung-hubungkan dengan kain lap yang digunakan Yesus tatkala membasuh kaki murid-muridNya, dan merupakan simbol yang tepat bagi kuk Kristus, yakni kuk pelayanan.
Bagaimanapun juga, "leluhur" stola yang mungkin paling dekat adalah syal departemen yang berlaku para pejabat  Kekaisaran Romawi . Ketika kaum klerus menjadi angota badan administrasi Romawi, mereka pun menerima tanda kehormatan yang sama, yang merupakan penanda jenjang jabatan dalam hirarki kekaisaran (dan  Gereja ). Berbagai konfigurasi stola (termasuk  pallium  atau omoforion) berasal dari penggunaan syal departemen ini. Maksud aslinya adalah sebagai tanda pengenal seseorang dalam organisasi tertentu dan untuk untuk menunjukkan pangkat orang tersebut dalam kelompoknya, fungsi inilah yang masih diteruskan oleh stola sampai hari. Jadi, tidak seperti busana liturgis lain yang awalnya berlaku baik oleh klerus maupun awam, stola merupakan busana yang dikhususkan untuk dikenakan oleh kelas masyarakat tertentu berdasarkan pekerjaannya.

PENGGUNAAN
Katolik Roma
Dalam Gereja Katolik Roma, stola adalah vestimentum yang menandai penerimaan sakramen imamat.Stola diberikan dalam pentahbisan menjadi diakon, yang dengannya seseorang menjadi anggota klerus (kaum tertahbis).  Uskup  dan imam mengenakan stola dengan cara menyampirkannya pada tengkuk dan membiarkan dua ujungnya menjuntai di bagian depan, sedangkan  diakon  menyampirkannya pada bahu kiri dan menyilangkan kedua ujungnya di pinggul kanan . Pada masa ketika Misa Tridentina masih digunakan, para imam yang bukan uskup menyilangkan stola di dada (lihat gambar kanan bawah), tetapi bedanya dalam  Misa  atau upacara-upacara lain bilamana berlaku pula  kasula  atau kap. Kini stola berlaku dengan membiarkan kedua ujungnya menjuntai lurus (Petunjuk Umum Misa Romawi, 340). Pada kesempatan-kesempatan khusus, Sri Paus mengenakan, sebagai bagian dari pakaian seragamnya, seperti stola khusus yang penuh hiasan dan diberi lambang pribadinya.

Anglikan
Demikian pula halnya, dalam Gereja-Gereja  Komuni Anglikan , stola diberikan pada saat seseorang ditahbiskan menjadi diakon serta disampirkan pada pundak. Dalam pentahbisan imam, sang imam yang baru saja ditahbiskan tersebut menyampirkan stola pada tengkuk dengan kedua ujungnya menjuntai di depan, baik menjuntai lurus atau dengan cara tradisional yakni disilangkan. Klerus injili yang berkeberatan mengenakan stola karena alasan hati nurani, mengikuti praktik reformasi yakni mengenakan syal khotbah ( preaching scarf ).

Protestan
Di gereja-gereja Protestan, stola sangat sering dipandang sebagai lambang tahbisan dan jabatan pelayanan Firman dan  Sakramen . Stola kerap diberikan oleh jemaat (kadang berupa stola buatan tangan atau stola yang diberi hiasan) sebagai hadiah pada saat pentahbisan atau perayaan peringatan tahbisan seseorang. Umumnya klerus protestan mengenakan stola dengan aturan yang sama dengan imam Anglikan atau imam Katolik ritus Latin yakni disampirkan pada tengkuk dan membiarkan kedua ujungnya menjuntai di dada (dan tidak disilangkan). Stola secara umum dikenakan oleh para petugas pelayanan yang tertahbis dalam  Gereja Lutheran  Gereja Methodis , Presbiterian, dan beberapadenominasi  protestan lainnya.
Dalam Gereja Lutheran Injili di Amerika (ELCA, Evangelis Lutheran Church in America), hanya para uskup dan pastor yang mengenakan stola karena hanya merekalah yang menerima tahbisan, yakni stola imam, karena dalam tradisi Lutheran jabatan uskup bukanlah suatu tahbisan tersendiri melainkan hanya suatu jabatan tertentu saja. Para petugas pelayanan diakonal ELCA (setara dengan diakon) umumnya tidak mengenakan stola, namun kadangkala mengenakan stola diakon tradisional pada saat menjalankan fungsi liturgis tradisional selaku diakon.
Dalam Gereja Persatuan Methodis di Amerika Serikat (United Methodist Church), para diakon mengenakan stola dengan cara yang sama seperti diakon-diakon dalam tradisi Anglikan dan Katolik ritus Latin. Seorang penatua yang tertahbis mengenakan stola dengan cara yang sama dengan imam-imam Anglikan dan Katolik ritus Latin, karena jabatan penatua dalam gereja ini setara dengan jabatan imam dalam Gereja Anglikan atau Katolik.

Gereja-gereja di Indonesia
Gereja-gereja di Indonesia menggunakan stola sebagai perlengkapan pakaian ibadah khususnya untuk kantor gerejawi yang tertahbis; penatua, pendeta, dan diaken. Ada gereja yang sudah sejak lama menggunakan stola tapi ada juga gereja yang baru saja menggunakan stola sebagai perlengkapan pakaian jabatan gerejawi. Warna stola biasanya disesuaikan dengan warna minggu liturgis dan disertakan bordiran simbol liturgi pada ujung stola.
Image
(Satu Set stola Gloria Hasta Karya)
 Stola Gloria hasta KARYA
Gloria Hasta Karya menyediakan dan melayani pemesanan stola untuk perlengkapan pakaian jabatan gerejawi. Stola Gloria Hasta Karya dibuat dari bahan yang berkualitas dan dibordir secara professional dengan simbol gerejawi atau atas pesanan gambar khusus. Stola produk Gloria Hasta Karya dijual dalam 1 set (terdiri 5 lembar bolak-balik dengan 10 simbol tahun gerejawi). Selain itu simbol pada stola dapat kami layani sesuai pesanan dari konsumen.


Stola

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Stola adalah vestimentum liturgis dari berbagai denominasi Kristen. Stola berupa sehelai selempang kain dengan bordiran, dulunya berbahan dasar sutera, panjangnya sekitar tujuh setengah sampai sembilan kaki dan selebar tiga sampai empat inci, makin ke ujung makin lebar.

Daftar isi

  [sembunyikan
·         1 Etimologi dan sejarah
·         2 Penggunaan
o    2.2 Anglikan
·         3 Simbolisme dan warna
·         5 Referensi
·         6 Pranala luar

[sunting]Etimologi dan sejarah

Kata Latin stola berasal dari kata Yunani στολη (stolē), "pakaian", arti aslinya adalah "tatanan" atau "kelengkapan".
Stola mula-mula merupakan semacam syal yang dikenakan menutupi bahu dan menjuntai di bagian depan tubuh; syal yang dikenakan kaum wanita memang sangat besar ukurannya. Setelah dialihgunakan oleh Gereja Roma sekitar abad ke-7 (stola juga telah dipergunakan oleh Gereja-Gereja lokal lain sebelumnya), bentuk stola makin lama makin menyempit dan dipenuhi hiasan karena stola dikembangkan menjadi semacam tanda kehormatan. Kini stola biasanya lebih lebar dan dapat dibuat dari berbagai jenis bahan.
Ada banyak teori mengenai "leluhur" stola. Ada yang berpendapat bahwa stola berasal dari tallit (mantel sembahyang Yahudi), karena kemiripannya dengan tata cara penggunaan tallit saat ini (pemimpin ibadah Yahudi mengerudungi kepalanya dengan tallit pada saat memimpin doa) tetapi teori ini sudah tidak dipergunakan lagi sekarang. Teori yang lebih populer adalah bahwa stola berasal dari semacam kain lap liturgis yang disebut orarium dan sangat mirip dengan sudarium. Kenyataanya, di banyak tempat stola disebut orarium. Oleh karena itu stola dihubung-hubungkan dengan kain lap yang digunakan Yesus tatkala membasuh kaki murid-muridNya, dan merupakan simbol yang tepat bagi kuk Kristus, yakni kuk pelayanan.
Bagaimanapun juga, "leluhur" stola yang mungkin paling dekat adalah syal jabatan yang dikenakan para pejabat Kekaisaran Romawi. Ketika kaum klerus menjadi angota badan administrasi Romawi, mereka pun menerima tanda kehormatan yang sama, yang merupakan penanda jenjang jabatan dalam hirarki kekaisaran (dan Gereja). Pelbagai konfigurasi stola (termasuk pallium atau omoforion) berasal dari penggunaan syal jabatan ini. Maksud aslinya adalah sebagai tanda pengenal seseorang dalam organisasi tertentu dan untuk untuk menunjukkan pangkat orang tersebut dalam kelompoknya, fungsi inilah yang masih diteruskan oleh stola hingga hari. Jadi, tidak seperti busana liturgis lain yang awalnya dikenakan baik oleh klerus maupun awam, stola merupakan busana yang dikhususkan untuk dikenakan oleh kelas masyarakat tertentu berdasarkan pekerjaannya.

[sunting]Penggunaan

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/ae/Extreme_Unction_Rogier_Van_der_Weyden.jpg/180px-Extreme_Unction_Rogier_Van_der_Weyden.jpg
Imam mengenakan sehelai stola

[sunting]Katolik Roma

Dalam Gereja Katolik Roma, stola adalah vestimentum yang menandai penerimaan sakramen imamat. Stola diberikan dalam pentahbisan menjadi diakon, yang dengannya seseorang menjadi anggota klerus (kaum tertahbis). Uskup dan imam mengenakan stola dengan cara menyampirkannya pada tengkuk dan membiarkan dua ujungnya menjuntai di bagian depan, sedangkan diakon menyampirkannya pada bahu kiri dan menyilangkan kedua ujungnya di pinggul kanan. Pada masa ketika Misa Tridentina masih digunakan, para imam yang bukan uskup menyilangkan stola di dada (lihat gambar kanan bawah), tetapi hadanya dalam Misa atau upacara-upacara lain bilamana dikenakan pula kasula atau kap. Kini stola dikenakan dengan membiarkan kedua ujungnya menjuntai lurus (Petunjuk Umum Misa Romawi, 340). Pada kesempatan-kesempatan istimewa, Sri Paus mengenakan, sebagai bagian dari pakaian seragamnya, semacam stola khusus yang penuh hiasan serta diberi lambang pribadinya.

[sunting]Anglikan

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/28/Stolepriest.jpg/100px-Stolepriest.jpg
Stola menyilang di dada bagi imam.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7c/Stoledeacon.jpg/100px-Stoledeacon.jpg
Stola pada bahu kiri bagi diakon.
Demikian pula halnya, dalam Gereja-Gereja Komuni Anglikan, stola diberikan pada saat seseorang ditahbiskan menjadi diakon serta disampirkan pada pundak. Dalam pentahbisan imam, sang imam yang baru saja ditahbiskan tersebut menyampirkan stola pada tengkuk dengan kedua ujungnya menjuntai di depan, baik menjuntai lurus atau dengan cara tradisional yakni disilangkan. Klerus injili yang berkeberatan mengenakan stola karena alasan hati nurani, mengikuti praktik reformasi yakni mengenakan syal khotbah (preaching scarf).

[sunting]Protestan

Dalam gereja-gereja Protestan, stola sangat sering dipandang sebagai lambang tahbisan dan jabatan pelayanan Firman dan Sakramen. Stola kerap diberikan oleh jemaat (kadang kala berupa stola buatan tangan atau stola yang diberi hiasan) sebagai hadiah pada saat pentahbisan atau perayaan peringatan tahbisan seseorang. Umumnya klerus protestan mengenakan stola dengan aturan yang sama dengan imam Anglikan atau imam Katolik Ritus Latin yakni disampirkan pada tengkuk dan membiarkan kedua ujungnya menjuntai pada dada (dan tidak disilangkan). Stla secara umum dikenakan oleh para petugas pelayanan yang tertahbis dalam Gereja Lutheran, Gereja Methodis, Presbiterian, dan beberapa denominasi protestan lainnya.
Dalam Gereja Lutheran Injili di Amerika (ELCA, Evangelical Lutheran Church in America), hanya para uskup dan pastor yang mengenakan stola karena hanya merekalah yang menerima tahbisan, yakni stola imam, karena dalam tradisi Lutheran jabatan uskup bukanlah suatu tahbisan tersendiri melainkan hanya suatu jabatan tertentu saja. Para petugas pelayanan diakonal ELCA (setara dengan diakon) umumnya tidak mengenakan stola, namun kadangkala mengenakan stola diakon tradisional pada saat menjalankan fungsi liturgis tradisional selaku diakon.
Dalam Gereja Persatuan Methodis di Amerika Serikat (United Methodist Church), para diakon mengenakan stola dengan cara yang sama seperti diakon-diakon dalam tradisi Anglikan dan Katolik Ritus Latin. Seorang penatua yang tertahbis mengenakan stola dengan cara yang sama dengan imam-imam Anglikan dan Katolik Ritus Latin, karena jabatan penatua dalam gereja ini setara dengan jabatan imam dalam Gereja Anglikan atau Katolik.

[sunting]Simbolisme dan warna

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/35/Stolecolours.jpg/220px-Stolecolours.jpg
Warna-warna stola
Stola beserta sinktura dan manipel, melambangkan ikatan dan rantai yang membelenggu Yesus dalam jalan sengsaraNya; stola biasanya diberi hiasan aberbentuk salib. Versi lain mengatakan bahwa stola melambangkan tugas memberitakan Firman Allah.
Warna-warna stola dan vestimentum lainnya dalam Gereja Katolik Roma tercantum dalam Petunjuk Umum Buku Misa Romawi (Missale Romanum), 346. Warna putih digunakan dalam masa Paskah dan Natal serta hari-hari raya yang bukan hari peringatan martir; merah untuk hari Minggu Palma, Jumat Agung, dan hari Minggu Pentakosta, serta hari-hari peringatan orang-orang kudus yang wafat sebagai martir; hijau untuk masa biasa (antara masa Natal dan masa Prapaskah, serta antara masa Paskah dan masa Adven). Lembayung (seringkali dicampuradukkan dengan warna ungu) untuk masa Adven dan masa Prapaskah, serta dapat digunakan dalam Misa bagi orang yang telah meninggal dunia. Di tempat-tempat yang lazim menggunakannya, warna merah muda (pink) dapat digunakan untuk hari Minggu ke-3 dalam masa Adven dan hari Minggu ke-4 dalam masa Prapaskah, karena hari Minggu ke-3 dalam masa Adven disebut hari MingguGaudete dan hari Minggu ke-4 dalam masa Prapaskah disebut hari Minggu Laetare; kata-kata Latin tersebut berarti "bersukacitalah", dan perubahan warna yang digunakan melambangkan "selingan" dalam penintensi selama masa penggunaan warna lembayung. Demikian pula, di tempat-tempat yang lazim menggunakannya, warna hitam digunakan dalam Misa bagi orang yang telah meninggal dunia. Meskipun demikian, Konferensi Waligereja, dengan persetujuan Tahta Suci, boleh menyesuaikan aturan-aturan ini dengan tradisi-tradisi nasional, seperti misalnya, di negara-negara yang menggunakan warna putih sebagai warna perkabungan.
Komuni Anglikan dan Gereja Lutheran Injili di Amerika menggunakan warna-warna utama yang sama (putih, merah, hijau, dan ungu), namun sering pula menggunakan warna biru sebagai ganti ungu untuk masa Adven (melambangkan langit malam hari atau Perawan Maria), merah-keunguan (Komuni Anglikan) atau merah-kirmizi(Gereja Lutheran Injili di Amerika) digunakan selama Pekan Suci. Hitam, warna umum dalam kebanyakan denominasi, melambangkan perkabungan, mulanya digunakan pada hari Jumat Agung dan upacara pemakaman, akan tetapi sejak tahun 1960-an, hitam tergantikan oleh putih. Dalam keadaan-keadaan tertentu, warna hitam tetap digunakan untuk upacara pemakaman dalam beberapa upacara pemakaman Anglikan (misalnya dalam pemakaman Ratu Elizabeth, "Queen Mother"), Sedangkan Gereja Lutheran Injili di Amerika menggunakan warna hitam hanya untuk ibadah hari Rabu Abu, dan sebagai warna selubung salib pada hari Jumat Agung. Sebagai aturan, tata cara Anglikan umumnya identik dengan tata cara Katolik Roma.

[sunting]Stola dalam Gereja-Gereja Timur

Dalam Gereja-Gereja Timur, stola dikenal sebagai epitrakhelion (dikenakan oleh imam atau uskup) dan orarion (dikenakan oleh diakon atau subdiakon). Stola milik imam berupa sehelai selempang yang disampirkan pada tengkuk, dan kedua ujungnya dibiarkan menjuntai di bagian depan, kedua sisi stola yang bertemu di bagian depan disatukan dengan jahitan. Protodiakon atau diakon agung menyampirkan stolanya pada pundak kiri lalu disilangkan pada pinggul kanan, sedangkan diakon menyampirkannya pada pundak kiri dan membiarkan kedua ujungnya menjuntai bebas di sisi kiri. Dua cara tersebut hanya dapat dijumpai dalam Gereja-Gereja Ortodoks yang paling tradisional. Dalam kebanyakan tradisi Timur, hanya cara pertama yang digunakan, kecuali jika diakon yang bersangkutan hanya mengenakan eksorasson (jubah luar) maka orarion disampirkan ganda pada bahu kiri. Subdiakon menyampirkan orarion-nya pada kedua pundak lalu disilangkan di belakang dan depan. Orang-orang yang bertindak selaku subdiakon menyilangkan orarion hanya pada bagian belakang agar menunjukkan bahwa mereka tidak ditahbiskan.


Sebuah liturgi vestasi terdiri dari strip bahan dari dua hingga empat inci dan lebar sekitar delapan puluh inci panjang. Ini memiliki baik lebar seragam di seluruh, atau agak sempit ke arah tengah, melebar di ujung dalam bentuk trapesium atau sekop. Sebuah kecilsilang umumnya menjahit atau bordir pada stola pada kedua ujungnya dan di tengah-tengah, sedangkan salib , bagaimanapun, adalah diresepkan hanya untuk tengah, di mana imam ciuman yang mencuri sebelum meletakkan pada. Tidak ada mengungkapkanajaran mengenai materi dari stola, tapi sutra, atau setidaknya kain setengah-sutra, adalah yang paling tepat. Stoles untuk festival umumnya dihiasi dengan bordir , terutama apa yang disebut vesper stoles ".

Hadir penggunaan

The stola ini hanya dikenakan oleh diakon , imam , dan uskup . Untuk diakon dan imamitu adalah tanda khusus dari kantor, menjadi lencana dari diakonal dan imam perintah .Penggunaan salah satu stola oleh subdiakon , oleh karena itu, akan berarti perampasan tatanan yang lebih tinggi, dan akan merupakan suatu penyimpangan . Diakon mengenakan stola seperti selempang, yang Vestimentum beristirahat di bahu kiri dan dari situ yang melintasi payudara dan kembali ke yang tepat samping. Yang mencuri dari imam memanjang dari bagian belakang leher di bahu ke payudara, di mana kedua bagian baik silang satu sama lain atau jatuh lurus sesuai sebagaistola yang dikenakan di atas alba atau surplice . The stola dikenakan oleh uskup dengan cara yang sama sebagai imam , kecuali bahwa itu tidak pernah terlintas pada payudara, sebagai uskup memakaisalib dada . Sebagai tanda dari urutan stola digunakan dalam khusus upacara , pada pentahbisan daridiakon dan imam . Pada pentahbisan dari diaken yang Uskup meletakkannya di bahu kiri calon, mengatakan: "Menerima dari tangan Allah garmen putih dan memenuhi Mu tugas , untuk Tuhan adalah perkasa cukup untuk memberikan kepadamu Nya rahmat di kaya . ukuran " Pada pentahbisan dari para imam yang uskup menarik bagian dari stola yang terletak di bagian belakang leher kandidat maju atas payudara dan meletakkan kedua ujung melintang, mengatakan: "Terimalah kuk Tuhan , untuk kuk-Nya adalah manis dan Nya beban ringan. " Kongregasi Ritus telah memberikan sejumlah besar keputusan mengenai penggunaan stola. Sebagai aturan umum dapat dinyatakan: satu stola hanya digunakan, dan harus digunakan, pada fungsi yang khas bagi diakon , imam , dan uskup , fungsi yang mengandaikan urutan (misalnya, pada perayaan Misa , ketika Sakramen Mahakudus disentuh, ketikasakramen yang diberikan), tetapi tidak untuk contoh, dalam prosesi atau Vesper . Pemakaian dari stola oleh uskup di Khidmat Vesper adalah pengecualian, penggunaannya oleh imam sementara khotbah tergantung pada lokal kustom . The stola bukanlah tanda tertentu parokial yurisdiksi . Penggunaanstola juga adat di Oriental ritus , di mana, seperti di Barat , itu adalah salah satu kepala liturgi jubah(Yunani, 6pdpiov, para diakon stola, dan irrpaXXtop, para imam stola, Armenia , urar; Suriah danChaldaic , uroro, Koptik , batrashil). Menurut menyajikan Oriental kustom yang stola adalah strip sutra sekitar tujuh atau delapan inci, memiliki di ujung atas lubang melalui mana kepala dimasukkan, itu adalah baik terbagi (Suriah, Koptik , dan Armenia kustom ) atau membuka turun depan dari pembukaan untuk kepala (Yunani kustom ). Di antara orang-orang Kasdim ( Nestorian ) dengan stola dari imammenyerupai yang digunakan di Barat , dan, seperti ini, menyeberang melalui payudara. The diakonstola umumnya menggantung langsung dari bahu kiri baik di depan dan di belakang, tetapi dalambeberapa upacara adalah luka pertama seperti selempang sekitar payudara dan punggung. Di antaraSuriah dan Kasdim yang subdeacon juga menggunakan stola, namun ia pertama kali twists seperti syal di leher, berakhir yang kemudian membiarkan menggantung dari bahu kiri di depan dan belakang.

Sejarah

Kami memiliki beberapa referensi ke stola anterior ke abad kesembilan. Di Timur, bagaimanapun, disebutkan sangat awal, ini diakon mencuri yang sering disebut bahkan pada abad keempat dan kelima.Para imam stola tidak disebutkan di Timur sampai abad kedelapan. Yang stola pertama kali disebutkan di Barat pada abad keenam dan ketujuh (Sinode Braga , 563, Keempat Dewan of Toledo , 633, Gallicanpenjelasan Misa ), tapi kemudian sebagai hal yang sudah lama digunakan. Yang paling awal bukti dari penggunaan stola di Roma tanggal dari paruh kedua abad kedelapan dan kesembilan dari awal. Namun pada abad kesembilan, subdiakon dan pembantunya masih mengenakan baik planeta dan stola, meskipun, untuk membedakan mereka dari diakon , imam , dan uskup , ada keterbatasan yang pasti untuk penggunaan yang terakhir vestasi . Setelah abad kesembilan stola sangat sering disebut, dan bahkan kemudian cara penggunaannya adalah pada dasarnya sama dengan hari ini. Pada abad kesembilan dan kesepuluh dalam Frank Kekaisaran para imam diperintahkan untuk mengenakan stola terus-menerus sebagai lencana panggilan mereka, terutama ketika dalam perjalanan. Di Spanyol danGaul di pra-Carlovingian periode, diakon mengenakan stola atas tunik seperti Yunani , di Southern Italypraktek ini dilanjutkan sampai setidaknya abad ketiga belas, di Milan dengan stola masih dikenakan di atas dalmatik . The kustom untuk imam untuk mengenakan mencuri melintas di depan payudara padaMisa dikenal sebagai awal Sinode Braga (675), tetapi tidak menjadi umum sampai akhir Abad Pertengahan .

Pengembangan

Sangat sedikit yang diketahui tentang sifat dari stola di pra-Carlovingian periode. Awalnya itu mungkin kain dilipat ke dalam bentuk sebuah band, dan secara bertahap berkembang menjadi sebuah band yang sederhana. Pada abad kesebelas dan kedua belas yang stola sangat panjang, dan pada saat yang sama sangat sempit. Itu adat, bahkan di abad kesembilan, untuk ornamen berakhir denganrumbai , jumbai, atau sedikit lonceng . Menjelang abad ketiga belas ujung datang untuk menjadi trapesium-berbentuk, pada abad keempat belas bentuk ini menghilang, dan sampai abad keenam belas yang stola adalah strip bahan lebar seragam, dan hanya dihiasi dengan rumbai di ujung. Selama abad keenam belas ia mulai lagi menjadi adat untuk memperluas ujung stola, abad kedelapan belas menghasilkan jelek stoles, di mana ujung tampaknya menyebar ke sekop besar, ini juga disebut "sakustoles ". Itu tidak sampai abad keenam belas yang menjadi adat untuk menempatkan salib di tengah dan di ujung stola, di Abad Pertengahan praktek ini tidak biasa.

Asal

Berbagai hipotesis telah diusulkan mengenai asal stola. Teori sebelumnya universal diadakan, tapi cukup salah, bahwa itu berasal hias pemangkasan dari pakaian yang disebut "stola", yang dalam perjalanan waktu menghilang hanya meninggalkan ini pemangkasan, telah ditinggalkan. Teori yang menelusuri stola ke Yahudi berdoa mantel juga telah menyerah. Pada saat sekarang stola adalah baik ditelusuri kembali ke liturgi serbet, yang diaken dikatakan telah melakukan, atau ke dasi sebelumnya khas imam atau dianggap sebagai liturgis lencana (diperkenalkan paling lambat pada abad keempat) yang pertama kali datang ke digunakan di Timur, dan kemudian di Barat . Itu juga membawa, karena akan tampak, ke Roma , di mana itu tidak pada awalnya diadopsi sebagai lencana semakin tinggiperintah dari pendeta , tetapi sebagai tanda khas dari Romawi ulama pada umumnya. Pemberian daristola ke calon pada penahbisan di Roma dimaksudkan untuk menyampaikan ganda simbolisme , pertama, bahwa elevasi ke pendeta dari Gereja Roma terjadi de benedictione S. Petri, dan kedua bahwa dengan penahbisan calon memasuki pelayanan St Peter , yang dari Gereja Roma . Itu juga adat sebelum pentahbisan untuk meletakkan oraria tersebut atas Confessio of St Peter . Ini liturgi lencana disebut orarium karena kesamaannya dengan sekuler orarium baik dalam bentuk dan materi, dan dalam cara itu dipakai. (Untuk rincian lebih lanjut mengenai berbagai hipotesis tentang asal nama, lih J..Braun , "Die liturgische Gewandung", 608-20.) Nama "mencuri", sebagai sebutan orarium, adalah dariGalia asal , bukan Romawi . Pada awal abad kesembilan ungkapan "mencuri" menang dalam FrankKekaisaran , itu membuat pintu masuk ke Italia tentang abad kesepuluh, dan di sini juga datang dengan cepat ke dalam penggunaan umum. Dari abad ketiga belas orarium namanya muncul hanya dalam kasus terisolasi.


Stole

ImageA liturgical vestment composed of a strip of material from two to four inches wide and about eighty inches long. It has either a uniform width throughout, or is somewhat narrower towards the middle, widening at the ends in the shape of a trapezium or spade. A small cross is generally sewed or embroidered on the stole at both ends and in the middle; the cross, however, is prescribed only for the middle, where the priest kissesthe stole before putting it on. There are no express precepts concerning the material of the stole, but silk, or at least a half-silk fabric, is most appropriate. Stoles for festivalsare generally ornamented with embroidery, especially what are called vesper stoles".

Present use

The stole is worn only by deacons, priests, and bishops. For deacons and priests it is the specific mark of office, being the badge of the diaconal and priestly orders. The wrongful use of the stole by subdeacons, therefore, would imply the usurpation of a higher order, and would constitute an irregularity. Deacons wear the stole like a sash, the vestment resting on the left shoulder and thence passing across the breast and back to the rightside. The stole of the priest extends from the back of the neck across the shoulders to the breast, where the two halves either cross each other or fall down straight according as the stole is worn over the alb or the surplice. The stole is worn by a bishop in the same manner as a priest, except that it is never crossed on the breast, as a bishop wears the pectoral cross. As a mark of order the stole is used in a special ceremony, at the ordination of deacons and priests. At the ordination of deacons thebishop places it on the left shoulder of the candidate, saying: "Receive from the hand of God the white garment and fulfil thy duty, for God is mighty enough to give thee His grace in rich measure." At the ordination of priests the bishop draws the part of the stole that rests at the back of the candidate's neck forward over the breast and lays the two ends crosswise, saying: "Receive the yoke of the Lord, for His yoke is sweet and His burden is light." The Sacred Congregation of Rites has given a large number of decisions concerning the use of the stole. As a general rule it may be stated: thestole is only used, and must be used, at a function peculiar to the deacon, priest, and bishop, a function that presupposes the order (e.g., at the celebration of Mass, when the Blessed Sacrament is touched, when the sacraments are administered), but not for example, in processions or at Vespers. The wearing of the stole by the bishop at Solemn Vespers is an exception; its use by a priest while preaching depends on local custom. The stole is not a specific mark of parochial jurisdiction. The use of the stole is also customary in the Oriental rites, in which, as in the West, it is one of the chiefliturgical vestments (Greek, 6pdpiov, the deacon's stole, and irrpaXXtop, the priest's stole; Armenian, urar; Syrian and Chaldaic, uroro; Coptic, batrashil). According to present Oriental custom the stole is a strip of silk about seven or eight inches wide, having at the upper end a hole through which the head is inserted; it is either undivided (Syrian, Coptic, and Armenian custom) or opens down the front from the opening for the head (Greek custom). Among the Chaldeans (Nestorians) the stole of thepriest resembles that used in the West, and is, like this, crossed over the breast. The deacon's stole generally hangs down straight from the left shoulder both in front and at the back, but in certain ritesis first wound like a sash around the breast and back. Among the Syrians and Chaldeans thesubdeacon also uses the stole, but he first twists it like a scarf around the neck, the ends being then let hang from the left shoulder in front and behind.

History

We possess few references to the stole anterior to the ninth century. In the East, however, it is mentioned very early, the deacon's stole being frequently referred to even in the fourth and fifth centuries. The priest's stole is not mentioned in the East until the eighth century. The stole is first mentioned in the West in the sixth and seventh centuries (Synod of Braga, 563; Fourth Council ofToledo, 633; Gallican explanation of the Mass), but then as a thing which had long been in use. The earliest evidences of the use of the stole at Rome date from the second half of the eighth century and the beginning of the ninth. But in the ninth century, subdeacons and acolytes still wore both the planeta and the stole, although, to distinguish them from the deacons, priests, and bishops, there were definite limitations to their use of the latter vestment. After the ninth century the stole is very frequently mentioned, and even then the manner of its use was essentially the same as today. In the ninth and tenth centuries in the Frankish Empire the priests were commanded to wear the stole constantly as a badge of their calling, especially when on a journey. In Spain and Gaul in the pre-Carlovingian period, the deacons wore the stole over the tunic like the Greeks; in Southern Italy this practice was continued until at least the thirteenth century; at Milan the stole is still worn over thedalmatic. The custom for the priests to wear the stole crossed in front of the breast at Mass was known as early as the Synod of Braga (675), but did not become general until the late Middle Ages.

Development

Very little is known concerning the nature of the stole in the pre-Carlovingian period. Originally it was probably a cloth folded into the form of a band, and gradually developed into a simple band. In the eleventh and twelfth centuries the stole was very long, and at the same time extremely narrow. It was customary, even in the ninth century, to ornament the ends with fringe, tassels, or little bells. Towards the thirteenth century the ends came to be trapezium-shaped; in the fourteenth century this shape disappeared, and until the sixteenth century the stole was a strip of material of uniform width, and only ornamented with fringe at the ends. During the course of the sixteenth century it began again to be customary to broaden the ends of the stole; the eighteenth century produced the ugly stoles, in which the ends seemed to spread out into huge spades; these were also called "pocketstoles". It was not until the sixteenth century that it became customary to place a cross in the centre and at the ends of the stole; in the Middle Ages this practice was unusual.

Origin

Various hypotheses have been suggested concerning the origin of the stole. The theory formerly universally held, but quite wrong, that it originated in the ornamental trimming of a garment called "stole", which in the course of time disappeared leaving behind only this trimming, has been abandoned. The theory that traced the stole to the Jewish praying mantle has also been given up. At the present time the stole is either traced back to a liturgical napkin, which deacons are said to have carried, or to a neckcloth formerly peculiar to priests or it is regarded as a liturgical badge (introduced at the latest in the fourth century) which first came into use in the East, and then in the West. It was also brought, as it would seem, to Rome, where it was not at first adopted as a badge of the higher orders of the clergy, but as a distinctive mark of the Roman clergy in general. The giving of thestole to the candidate at ordination in Rome was intended to convey a double symbolism; first, that the elevation to the clergy of the Roman Church occurred de benedictione S. Petri, and secondly that by ordination the candidate entered the service of St. Peter, that is of the Roman Church. It was also customary before the ordination to lay the oraria upon the Confessio of St. Peter. This liturgical badge was called orarium on account of its similarity to the secular orarium both in shape and material, and in the way it was worn. (For further details as to the various hypotheses concerning the origin of the name, cf. J. Braun, "Die liturgische Gewandung", 608-20.) The name "stole", as the designation of the orarium, is of Gallic origin, not Roman. As early as the ninth century the expression "stole" prevailed in the Frankish Empire; it made its entrance into Italy about the tenth century, and here also came rapidly into general use. From the thirteenth century the name orarium appears only in isolated instances.


Pakaian Liturgi


Dalam perayaan liturgi dan ibadat Gereja Katolik, para petugas memakai pakaian tertentu. Ada berbagai jenis pakaian liturgi yang disesuaikan dengan fungsi dan pemakainya. Pakaian ini melambangkan suasana liturgi yang dirayakan saat itu.

1. Pakaian Liturgi Jubah
Jubah adalah pakaian liturgi yang hanya dikenakan oleh imam, atau frater. Biasanya pakaian liturgi ini berwarna putih panjang, berlengan panjang.

2. Pakaian Liturgi Kasula
Kasula adalah pakaian liturgi luar yang dikenakan imam saat memimpin Perayaan Ekaristi. Kasula dikenakan diluar jubah atau alba. Kasula ini adalah pakaian liturgi resmi untuk imam yang wajib dikenakan saat memimpin Perayaan Ekaristi. Warna kasula selalu disesuaikan dengan warna liturgi pada saat itu, dan jenis pesta peringatannya.

3. Pakaian Liturgi Stola
Stola adalah pakaian liturgi berbentuk seperti selendang yang dikalungkan. Stola hanya boleh dipakai oleh orang-orang yang telah ditahbiskan yaitu, uskup, imam, diakon (calon imam). Stola merupakan simbol pemimpin liturgi. Maka pakaian liturgi ini tidak boleh dikenakan oleh orang yang tidak ditahbiskan. Stola biasa dipakai saat memberikan Sakramen Pengampunan dosa, saat memberikan Sakramen Minyak Suci, dan saat memimpin ibadat lainnya. Warna stola selalu disesuaikan dengan warna liturgi pada saat itu, dan jenis pesta peringatannya.

4. Pakaian Liturgi Pluviale
Pluviale adalah pakaian liturgi berupa kain seperti mantel yang besar dan diberi hiasan indah. Pemakaiannya adalah dengan cara dikalungkan dari belakang dan dikancingkan pada bagian depan. Pluviale dipakai pada saat prosesi, adorasi, pemberkatan Sakramen Maha Kudus. Atau saat pemberkatan perkawinan tanpa Misa Kudus.

5. Pakaian Liturgi Velum
Velum adalah pakaian liturgi berupa kain selubung berbentuk persegi panjang besar dengan ukuran lebar 2-3 meter, yang dihias indah, biasanya berwarna putih atau kuning. Biasanya pakaian liturgi ini dipakai imam untuk membungkus Sibori pada saat menyimpan Sakramen Mahakudus.

6. Pakaian Liturgi Amik
Amik adalah pakaian liturgi berbentuk kain persegi empat yg pada kedua ujung atasnya terdapat tali yang panjang. Amik dipakai imam untuk menutupi krah baju atau jubah yang tidak berwarna putih. Amik dipakai sebelum mengenakan alba.

7. Pakaian Liturgi Alba
Alba adalah pakaian liturgi berwujud jubah panjang tipis berwarna putih. Alba berasal dari bahasa Latin "albus" yang artinya putih. Alba biasanya dipakai oleh imam atau diakon (calon imam) yang belum memakai jubah, dan  imam atau diakon yang jubahnya tidak berwarna putih . Alba bisa juga dipakai oleh para petugas liturgi lainnya, seperti: prodiakon, lektor, misdinar, dan pemazmur.

8. Pakaian Liturgi Superpli
Superpli adalah pakaian liturgi luar seperti rok yang panjangnya dari leher sampai atas lutut. Berwarna putih dan berlengan panjang. Biasa dipakai oleh imam, bruder, frater. Superpli dipakai di atas jubah imam, bruder, atau frater.

9. Pakaian Liturgi Dalmatik
Dalmatik merupakan pakaian liturgi berbentik seperti kasula, hanya biasanya pada ujungnya berbentuk persegi atau bersudut. Bermotif garis-garis salib besar. Pakaian liturgi ini hanya dipakai oleh diakon yang ditahbiskan (calon imam)

10. Pakaian Liturgi Samir
Samir adalah perlengkapan pakaian liturgi berupa kain seperti selendang kecil dikalungkan di leher yang kedua ujungnya menyatu, yang diberi hiasan salib pada ujungnya. Samir biasa dipakai oleh prodiakon & lektor. Warna samir selalu disesuaikan dengan warna liturgi pada saat itu, dan jenis pesta peringatannya.

11. Pakaian Liturgi Singel
Singel pakaian liturgi tambahan berupa sebuah tali panjang yang berfungsi sebagai ikat pinggang. Singel ini boleh dipakai oleh siapa saja yang memakai alba, atau yang albanya terlalu besar. Singel dipakai untuk merapikan dan mengikat alba.


Busana Liturgis Lainnya
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/1x1.gif

http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/24289070.jpgSUPERPLI

Istilah superpli berasal dari bahasa Latin “superpellicium” yang artinya “di atas dada”. Superli adalah pakaian luar seperti rok yang berwarna putih, panjangnya sampai di atas lutut dan memiliki lengan baju yang lebar; terkadang dengan renda-renda di bagian lengan dan lipatannya. Superpli dipakai oleh imam atau diakon dalam rangka ibadat atau perayaan liturgi di luar misa, seperti adorasi, ibadat tobat, mengantar Komuni, dan ibadat-ibadat lain. Superpli merupakan pengganti alba. Tapi, tidak boleh sembarangan memakai superpli. Kalau pelayan mengenakan kasula atau dalmatik, ia harus mengenakan alba, tidak boleh menggantikan alba dengan superpli. Superpli bisa juga dikenakan oleh siapa saja yang bertugas dalam liturgi, termasuk para broeder, frater dan misdinar.




http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/24496c40.jpgPLUVIALE

Arti harafiah pluviale ialah mantel hujan. Pluviale yang dipergunakan dalam liturgi merupakan kain mantel besar, indah, yang dikalungkan pada leher dari belakang dengan kancing rantai dari kedua sudut atas mantel. Dalam liturgi, pluviale dipakai oleh uskup atau imam pada perayaan liturgi di luar Perayaan Ekaristi, seperti prosesi, adorasi atau astuti, pemberkatan dengan Sakramen Mahakudus, pemberkatan mempelai tanpa misa kudus atau upacara pemberkatan lain.




VELUM

http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/245bfab0.jpgVelum merupakan sebutan bagi kain segi empat sepanjang 2-3 meter dan lebarnya sekitar 60 cm, berwarna putih atau kuning atau emas dengan hiasan indah, memiliki rantai kancing pada kedua ujung yang dapat dicantelkan di depan dada. Velum yang berarti kain selubung ini digunakan dengan cara dikalungkan dari belakang dan dikenakan pada punggung. Velum digunakan oleh imam atau diakon untuk menyelubungi pegangan monstrans yang berisi Sakramen Mahakudus dalam rangka prosesi Sakramen Mahakudus atau pemberkatan umat dengan Sakramen Mahakudus. Memang unsur busana ini tidak dipakai dalam Perayaan Ekaristi, namun sangat berkaitan dengan Sakramen Ekaristi, yakni dalam adorasi atau penghormatan kepada Sakramen Mahakudus. Kain semacam itu biasanya dihiasi. Namun ada juga yang tanpa hiasan, namun dipakai untuk membawa tongkat gembala dan mitra uskup, ketika seorang uskup memimpin Perayaan Ekaristi meriah. Velum untuk tongkat dan mitra uskup biasanya berwarna putih saja.



DALMATIK

http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/247a0de0.jpgDalam Perayaan Ekaristi, busana khusus bagi imam selebran ialah kasula; busana khusus bagi diakon ialah Dalmatik. Bentuk dalmatik agak mirip kasula, tetapi berbeda juga, sebab ujung dalmatik biasa dibuat persegi atau bersudut (pada kasula tidak) dan motif hiasan berupa garis-garis salib besar. Dalmatik dikenakan setelah stola diakon. Ini adalah busana resmi diakon tatkala bertugas melayani dalam Misa, khususnya yang bersifat agung / meriah. Tetapi, kalau tidak perlu atau dalam perayaan liturgi yang kurang meriah, diakon tidak harus mengenakan dalmatik. Busana ini melambangkan sukacita dan kebahagiaan yang merupakan buah-buah dari pengabdiannya kepada Allah. Warna atau motif dalmatik disesuaikan dengan kasula imam yang dilayaninya pada waktu Misa.




http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/24964bd0.jpgSTOLA DIAKON


Sama dengan stola imam, hanya cara mengenakannya yang berbeda. Imam mengenakan stola dengan cara mengalungkannya pada leher, dua ujung stola dibiarkan menggantung. Diakon mengenakan stola dengan cara menyilangkannya dari pundak kiri ke pinggang kanan. Karena stola merupakan tanda jabatan kepemimpinan liturgi resmi, maka stola hanya boleh dikenakan oleh para pelayan yang ditahbiskan, yaitu uskup, imam dan diakon.


sumber : 1. “Simbol-Simbol Sekitar Perayaan Ekaristi: Busana Liturgis”; Pamflet Liturgi M3 Mengalami, Merawat, Menarikan Liturgi; diterbitkan oleh ILSKI (Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia); 2. “Memahami Simbol-Simbol Dalam Liturgi” oleh E. Martasudjita, Pr; Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang; Penerbit Kanisius; 3. “Vestments” by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley

Perlengkapan Liturgi - BUSANA liturgi

clip_image002
Mengapa memakai busana khusus?
"Haruslah engkau membuat pakaian kudus untuk Harun, saudaramu, sebagai perhiasan kemuliaan. Haruslah engkau mengatakan kepada semua orang yang ahli, yang telah Kupenuhi dengan roh keahlian, membuat pakaian Harun, untuk menguduskan dia, supaya dipegangnya jabatan imam bagi-Ku. "(Kel 28:2-3)
clip_image004clip_image006clip_image008
Pedoman Umum Misale Romawi: "Gereja adalah Tubuh Kristus. Dalam Tubuh itu tidak semua anggota menjalankan tugas yang sama. Dalam perayaan Ekaristi, tugas yang berbeda-beda itu dinyatakan lewat busana liturgis yang berbeda-beda. Jadi, busana itu hendaknya menandakan tugas khusus masing-masing server. Selain itu, busana liturgis juga menambah keindahan perayaan liturgis "(PUMR 335).
Amik, merek perlindungan
clip_image010clip_image012
Amik adalah kain putih segi empat dengan dua tali di dua ujungnya atau ada juga model modern lain yang tidak segi empat dan tanpa tali.
Amik yang melingkari leher dan menutupi bahu dan pundak itu melambangkan pelindung pembawa selamat (keutamaan harapan), yang membantu pemakainya untuk mengatasi serangan setan.
clip_image014clip_image016
Kain itu secara praktis juga berfungsi untuk menutupi kerah baju agar tampak rapi, untuk menahan dingin, atau sekaligus untuk menyerap keringat agar busana liturgis pada zaman dulu yang biasanya amat indah dan mahal tidak mengalami kerusakan.
Amik dikenakan oleh imam, diakon, atau petugas lain yang hendak mengenakan alba.
Pemakaian amik sering tergantung juga pada alba yang akan dipakai. Kalau alba kiranya tidak menutup sama sekali kerah pakaian sehari-hari, maka barulah amik itu berlaku sebelum alba (PUMR 336).
Alba , citra kekudusan
clip_image018clip_image020
Pakaian putih (Latin: alba = putih) panjang; simbol kesucian dan kemurnian yang seharus-nya menaungi jiwa diakon / imam yang me-rayakan liturgi, khususnya Pe-rayaan Ekaristi.
clip_image022clip_image024
Alba dengan warna putihnya itu sendiri secara simbolis mengingatkan kita akan komitmen baptis dan kebangkitan. Sebenarnya alba juga bisa dipakai untuk server altar lainnya, bahkan-meski tidak lazim-untuk lektor dan pemazmur.
Jubah Lektor
clip_image026clip_image028
Sudah sangat lazim bahwa lektor-juga beberapa petugas liturgis lainnya, seperti pemazmur dan pembagi komuni, bahkan kelompok paduan suara-mengenakan jubah atau busana semacamnya. Tidak ada aturan khusus untuk itu, juga tidak ada larangan untuk melanjutkan kebiasaan itu. Namun perlu ditegaskan bahwa hal itu bukanlah keharusan, sehingga tidak ada kewajiban untuk mengadakannya.
Justru, ketika publik atau petugas liturgis yang tidak ditahbiskan berperan dalam perayaan liturgis, sebaiknya ia tampil dengan busananya sendiri. Tentu saja busana yang layak dan sopan untuk ukuran publik.
Lagipula, seringkali memakai jubah untuk mereka malah bisa mengundang pemikiran lain (baik secara asosiatif maupun estetis). Dengan kata lain, tidak semua orang cocok memakai jubah. Jelasnya, jubah yang sebenarnya diperuntukkan bagi pria tentunya jadi terlihat aneh jika berlaku perempuan
clip_image030clip_image032
Superpli , pengganti alba
Superpli merupakan pengganti alba, potongannya tidak sepanjang alba. Ber-warna putih.Superpli tidak sampai mata kaki, cukup sebatas lutut dengan perge-langan tangan yang cukup lebar. Tidak bisa sembarangan memakai superpli. Alba dapat diganti superpli, kecuali kalau dipakai kasula atau dalmatik, atau kalau stola menggan-tikan kasula atau dalmatik (PUMR 336). Dengan kata lain, jika memakai kasula dan dalmatik, imam dan diakon harus memakai alba, bukan superpli. Jika hanya memakai stola, maka imam dan diakon bisa memakai superpli pada jubahnya.
Singel, tali kesucian
clip_image034clip_image036
Tali pengikat alba pada pinggang ini merupakan simbol nilai kemurnian hati (chastity) dan pengekangan diri. Biasanya berwarna putih atau sesuai dengan warna masa liturginya.Biasanya singel dipakai jika model alba membutuhkan-nya atau jika dipakai stola dalam (PUMR 336).
Busana khusus untuk yang ditahbiskan
clip_image038
Ada beberapa busana liturgis khusus untuk petugas yang ditahbiskan (klerus), yang tidak dikenakan atau bahkan ditiru untuk petugas liturgis publik. Unsur busana khusus itu adalah stola, kasula, dalmatik, dan velum. Selain mengenakan beberapa unsur di atas sebelumnya (amik, alba, singel), beberapa unsur berikut ini kemudian melengkapi penampilan se-orang petugas yang ditah-biskan sesuai dengan kebu-tuhan perayaannya.
Stola , lambang penugasan resmi
clip_image040
Stola adalah semacam selendang panjang; simbol bahwa yang mengenakannya sedang melaksanakan tugas resmi Gereja, terutama menyangkut tugas pengudusan (imamat).
Stola melambang-kan otoritas atau ke-wenangan dalam pelayanan sakra-mental dan berkhot-bah. Secara khusus, sesuai dengan doa ketika mengenakan-nya, stola dimaknai sebagai simbol kekekalan. Warnanya sesuai dengan warna masa liturgi pada saat perayaan dilangsungkan.
clip_image042clip_image043
Stola hanya digunakan oleh diakon dan imam.
clip_image045clip_image047
Diakon mengenakannya menyilang, dari pundak kiri ke pinggang kanan.
Imam memakainya dengan cara mengalungkannya di leher, dua ujung stola itu ke depan, dibiar-kan menggantung (PUMR 340).
clip_image049
Dulu (sebelum pembaruan liturgis 1970), cara ini hanya untuk uskup atau abas, kantor yang biasanya mengenakan kalung salib (pektoral) - kalung salib semacam itu pun sebenarnya tidak perlu diperlihatkan pada kasula, dalmatik, atau pluviale, tapi bisa pada mozzetta ( lihat CE / Caeremoniale Episco-porum 61). Sedangkan para pemimpinnya dulu mengalungkan stola dan kemudian menyilangkannya di depan. Sekali lagi, baik imam maupun uskup sekarang bisa mengenakan stola dengan cara yang sama (CE 66).
Kasula , lambang cinta dan pengorbanan
clip_image051
Kasula adalah busana khusus untuk imam, khususnya selebran dan konselebran utama, yang dipakai untuk memimpin Perayaan Ekaristi
Kasula melambangkan prioritas cinta kasih dan ketulusan untuk melaksanakan tugas yang penuh pengorbanan diri untuk Tuhan. Warnanya sesuai dengan warna liturgi untuk perayaannya. Model kasula mengalami beberapa perubahan dan variasi. Dari yang panjang dan mewah banyak hiasannya, lalu yang tampak minimalis dengan lengannya seperti terpotong, sampai yang sederhana polos.
clip_image052clip_image054
clip_image056clip_image058
Hingga saat ini setidaknya ada dua macam model atau cara pemakaian stolanya. Kasula dengan stola dalam berarti memakai stolanya di dalam, tertutup kasula. Kasula dengan stola luar berarti stolanya pada kasula.
Dalmatik, untuk pelayanan Misa
clip_image060
Dalmatik berlaku setelah stola diakon. Ini adalah busana resmi diakon tatkala bertugas melayani dalam Misa / Perayaan Ekaristi, khususnya yang bersifat agung / meriah.
Busana ini melambang-kan sukacita dan kebaha-giaan yang merupakan buah-buah dari pengab-diannya kepada Allah.
Warna atau motif dalmatik disesuaikan dengan kasula imam yang dilayaninya pada waktu Misa. Bentuk dalmatik seolah mirip kasula, namun sebenarnya memiliki pola berbeda.Biasanya ada beberapa garis menghiasinya.clip_image062
Velum
Velum adalah semacam kain putih / kuning / emas lebar yang dipakai pada punggung ketika membawa Sakramen Mahakudus dalam prosesi (ingat saat transfer Sakramen Mahakudus pada bagian akhir Misa Pengenangan Perjamuan Tuhan, Kamis Putih malam!) Dan memberi berkat dengan Sakramen Mahakudus.
Memang unsur busana ini tidak dipakai dalam Perayaan Ekaristi, namun sangat ber-kaitan dengan Sakramen Ekaristi, yakni dalam Adorasi atau penghormatan kepada Sakramen Mahakudus. • Kain semacam itu biasanya dihiasi. Ada juga yang tanpa hiasan, namun dipakai untuk membawa tongkat gembala dan mitra uskup, ketika seorang uskup memimpin Perayaan Ekaristi meriah. Velum untuk tongkat dan mitra uskup itu biasanya berwarna putih saja.
clip_image064
Pluviale
clip_image066
Ini semacam mantel panjang (Latin: pluvia = hujan) yang digunakan di luar Perayaan Ekaristi dan dalam perarakan liturgis, atau perayaan liturgis lain yang rubriknya menuntut digunakan busana itu (misalnya untuk liturgi pemberkatan). Kita bisa melihatnya - meski sudah jarang - jika imam mengenakannya dalam pawai sebelum Misa Minggu Palma. Jenis busana ini memang tidak langsung terkait dengan Misa, tapi sering digunakan sebelum Misa itu sendiri.
Norma umum berbusana liturgi
clip_image068
Baik Imam Selebran maupun Imam Konselebran mengenakan busana yang sama, kecuali jika sang Imam Selebran adalah seorang Uskup. Biasanya uskup mengenakan tanda-tanda lain yang tidak dimiliki imam biasa. Namun, pada beberapa tingkat berbusana, sebenarnya ada norma tertentu yang berlaku untuk setiap petugas liturgis, khususnya pemimpin liturgis.
Singkatnya, busana dasar-nya adalah alba (yang putih!), Sebelumnya bisa memakai amik (tertutup alba), dan sesudahnya bisa memakai singel. Jika diakon, sesudah itu ia mengenakan stola, kemudian dalmatik. Jika imam, setelahnya me-makai stola, lalu kasula; atau dapat juga langsung
kasula, lalu stola luar.Seorang uskup agung (metropolis) juga mengenakan palium, seperti kalung dari kain keras, ada warna putih dan hitam, berikut beberapa simbol salib. Uskup biasa (sufragan) tidak memiliki palium. Salib dada (pektoral) seorang uskup sebenarnya tidak dikeluarkan (CE 61), alias tidak tampak pada kasula, alias sebaiknya dicopot atau disembunyikan saja di balik kasula. Salib pektoral seorang uskup merupakan bagian dari pakaian (jubah) kesehariannya (termasuk di antaranya topi kecil [ pelliolum, soli Deo ] dan cincin). Salib semacam itu bukan bagian dari perlambangan busana liturgis, berbeda halnya dengan mitra dan tongkat gembala.
Busana untuk publik jangan sama dengan klerus
Mungkin kita pernah melihat bahwa seorang bapak pembagi komuni berbusana mirip seorang imam, dengan memakai "semacam stola"; atau mirip seorang uskup, lengkap dengan jubah putih dan singel ungu (karena masa Prapaskah atau Adven), beserta salib pektoralnya. Wow!Instruksi Redemptionis Sacramentum mengingatkan bahwa "umat awam tidak pernah bisa bertindak atau berbusana liturgis seperti seorang imam atau diakon, atau memakai busana yang mirip dengan busana dimaksud" (RS 152). Maksud larangan itu adalah untuk menghindari kerancuan simbolis, atau terutama untuk tidak mengaburkan apa yang menjadi tugas khusus masing-masing (RS 151).
Maksud aneka warna busana liturgis
Peraturan tentang warna liturgis secara khusus berlaku untuk busana liturgis. Ada beraneka warna yang digunakan. Maksud keanekaragaman warna busana liturgis itu adalah [1] untuk secara lahiriah dan berhasil guna mengungkapkan ciri khas misteri iman yang dirayakan; [2] dan dalam kerangka tahun liturgi, untuk mengungkapkan makna tahap-tahap perkembangan dalam kehidupan kristen (PUMR 345).
Kapan menggunakan warna tertentu?
Warna-warna yang masih berlaku:
[1] putih: untuk Masa Paskah, Natal, perayaan-perayaan Tuhan Yesus (kecuali peringatan sengsara-Nya), pesta Maria, para malaikat, orang kudus yang bukan martir, Hari Raya Se-mua Orang Kudus (1 November), kelahiran St . Yohanes Pembaptis (24 Juni), Pesta Yohanes Pengarang Injil (27 Desember), Pesta St. Petrus Rasul (22 Februari), dan Pesta Bertobatnya St. Paulus Rasul (25 Januari). Warna putih juga bisa dipakai untuk Misa Ritual (PUMR 347);
[2] merah: untuk Minggu Palma, Jumat Agung, Minggu Pentakosta, perayaan Sengsara Tuhan, pesta para rasul dan penulis Injil (kecuali Yohanes), perayaan para martir;
[3] hijau: untuk Masa Biasa sepanjang tahun;
[4] ungu: untuk Masa Adven dan Prapaskah, dan Liturgi Arwah;
[5] hitam: untuk Misa Arwah, meskipun kini sudah jarang digunakan;
[6] jingga: untuk hari Minggu Gaudete (Minggu Adven III) dan Laetare (Minggu Prapaskah IV), jika memang sudah biasa (PUMR 346).
Bisakah warna itu diganti?
Perubahan warna tertentu untuk perayaan khusus diizinkan juga. Ini biasa terjadi dalam konteks kultural tertentu yang mungkin memiliki konsep makna berbeda tentang warna.Namun, kewenangan untuk mengubah demi penyerasian kultural itu ada pada pihak Konferensi Uskup, yang kemudian harus memberitahukannya kepada Takhta Apostolik (PUMR 346) sebelum memberlakukannya.
Bahan dan hiasannya
Biasanya busana liturgis itu terbuat dari kain, entah bahannya dari apa. Bahan apa saja memang bisa digu-nakan asal sesuai dengan martabat perayaan liturgis dan cocok untuk kondisi server liturgi yang mengenakan-nya (PUMR 343). Untuk daerah tropis seperti di Indonesia. kiranya ada bahan-bahan yang lebih cocok. Tidak semua busana liturgis buatan luar negeri (Eropa atau Amerika, misalnya) nyaman dipakai untuk daerah-daerah di Indonesia. Bahkan, busana liturgis buatan dalam negeri pun juga tidak semuanya nyaman untuk orang kita. Maka, perlulah setiap daerah memertimbangkan sendiri jenis kain atau bahan yang cocok untuk daerahnya, agar busana liturgis tidak menjadi gangguan bagi yang memakainya. Itu dari sisi pemakainya (petugas liturgi).
Sekarang perlu juga kita pertimbangkan dari sisi yang melihatnya, yaitu jemaat pada umumnya. Unsur keindahan dan keanggunannya sangat penting dan perlu diperhatikan.Keindahan dan keanggunan busana liturgis bukan ditentukan oleh banyak dan mewahnya hiasan, melainkan karena bahan dan bentuk potongannya. Juga bukan karena murah atau mahal harganya. Namun, juga jangan terlalu pelit untuk mengadakan busana yang membantu mencitrakan kekudusan ini. Hiasan yang berupa gambar atau lambang hendaknya juga sesuai dengan liturgi, khususnya Ekaristi (PUMR 344). Proporsi ornamen itu sebaiknya juga disesuaikan dengan interior atau bentuk bangunan gerejanya. Misalnya, untuk interior atau tata ruang gereja yang sudah meriah, mungkin tidak perlu lagi busana liturgi yang meriah atau ramai. Atau juga, busana liturgis bermotif batik-Jawa (atau motif tradisional lainnya) mungkin kurang cocok jika berlaku di dalam gereja yang bergaya gotik-Eropa, tapi lebih cocok dalam gereja yang bergaya joglo ala rumah Jawa (atau bergaya tradisional lainnya).
CH Suryanugraha, OSC 
(seijin Aegidius Eko Aldilanto O. Carm.)


Stola - Dapatkah DIPAKAI OLEH PUBLIK?

Posted by liturgiekaristi on March 9, 2011






Rate This

Pertanyaan umat:
Salam ... Ijinkan saya untuk bertanya. Apakah pemimpin ibadah sabda di wilayah rohani dan di kelompok kategorial menggunakan stola? Bila ya, apakah aturan tentang bagaimana cara menggunakan stola tersebut (dipakaikan atw pakai sendiri). 
Karena ditempat kami ada pemimpin ibadah yg memakai stola dan ada yg tidak. Diwilayah rohani yg memakai, ada perdbtan apakah dipakaikan atw pakai sendiri dgn brbgai mcm argumen. Dan dimanakah kita bisa menemukan acuan yg mengatur ttg hal tsb. Terima kasih.
PENCERAHAN DARI PASTOR BERNARD RAHAWARIN PR:
Bapak Misart, saya kemukakan kutipan dari Tata Bacaan Misa no 54: "Kalau seorang imam lain, diakon atau lektor yg ditunjuk untuk tugas itu, naik mimbar dalam perayaan Ekaristi bersama umat untuk membacakan Sabda Allah, mereka harus memakai pakaian liturgi sesuai dengan tugasnya. Tetapi mereka yg menunaikan tugasnya hanya atas dasar penunjukan aktual .... bisa naik dengan pakaian biasa, asal tidak melanggar adat kebiasaan daerah yg bersangkutan.
PENCERAHAN DARI BP. NIKASIUS HADDIE:
Pemimpin Ibadah di wilayah teritorial maupun dalam kelompok kategorial yang dilakukan oleh seorang publik, (bukan Klerus) TIDAK menggunakan stola. Kapan dipimpin oleh seorang pro-diakon, baiklah ia menggunakan alba sebagai pakaiannya.
Dokumen atau acuan ttng hal itu bisa dilihat pada Caeremoniale Episcoporum no 56-64 dan juga pada PUMR 2002 mulai no.335-347, khususnya no.340.
PENCERAHAN DARI BP. AGUS SYAWAL Yudhistira
Stola adalah lambang tahbisan, karena itu hanya Uskup, imam dan diakon yang bisa menggunakan stola. 
Diakon menggunakan stolanya menyelempang dari bahu kiri ke pinggang kanan. 
Imam dan uskup menggunakan stolanya seperti biasa kita lihat.
Ada satu hal yang sering kali kurang diperhatikan namun bisa mengakibatkan kesalahpahaman.Yaitu petugas publik yang memakai slempang seperti layaknya diakon .... See More 
Adalah lebih baik jika busana liturgi publik yang bertugas disesuaikan sehingga tidak meniru busana klerus. Alba dengan singel selalu cukup.
PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR:
Jika tidak keliru Sdr. Misart bertanya dgn latar belakang dan konteks Gereja Keusk Manado. Sy akan beri beberapa klarifikasi terutama kpd segenap pembaca yg kurang paham konteks Manado.
Pertama, istilah "WILAYAH ROHANI" yg dimaksud Misart adalah kelompok umat basis dlm paroki.Di keuskupan2 lain namanya lingkungan, kring, KBG, dll.
Kedua, "stola". Kalau di bbrp keuskupan di Jawa para prodiakon mengenakan Samir sbg 'pakaian' liturgis. Di Manado, ada juga 'busana liturgis' khusus yg sejak thn 2000 (Sinode Keuskupan Manado) dipakai. Bentuknya, bukan seperti samir, bukan juga seperti stola imam / diakon, tetapi hampir mirip PALLIUM yg berlaku oleh Benediktus XVI ketika hari inagurasinya. Adapun, 'pakaian liturgis' ini berlaku pada alba (bila perayaan meriah), atau pada busana biasa (bila perayaan biasa, mis: ibadah sabda di rumah). Yg mengenakan inipun selain prodiakon pembagi komuni, tapi juga lektor, dan pemimpin ibdah sabda hari minggu dan hari biasa. Namun, sama seperti beberapa prodiakon masih ada yg menyebut samir sebagai stola, demikian juga di Manado ada beberapa orang mengenal 'samir' tsb sbg stola ..
Ketiga, tentang "dipakaikan". Iklim keagamaan di Manado dan sekitarnya adalah iklim Protestan.Interaksi org2 Katolik dan Protestan sgt tinggi, ibdah2 ekumene dibuat di mana2 mulai dari rumah2 dan instansi2 pemerintah / swasta, bahkan lapangan terbuka dan stadion. Ketika itu, petugas liturgis protestan sebelum menjalankan tugasnya (mis: membacakan firman dan membawakan kotbah), kepadanya dipakaikan stola oleh salah seorang penatua jemaat. Ini dilihat oleh org Katolik lalu diikuti. Ya ..., ini namanya ikut-ikutan?

 

 

 

 

STOLA: FUNGSI dan MAKNA TEOLOGIS


sebuah sumbang saran pemikiran
menyambut launching STOLA Pelayan di GKPI


http://3.bp.blogspot.com/-RkI7K4U8rb4/T3F6FbxVbcI/AAAAAAAAAg0/qZ5ooIBglMY/s1600/stola+%5B3%5D.jpgPENDAHULUAN.
Sepotong bunyi: Surat edaran Pimpinan Pusat GKPI no.144/A.1/II/2012 tanggal 22 Pebruari 2012 hal: STOLA GKPI, mencanangkan bahwa GKPI pada periode ini akan merealisasikan pengadaan STOLA. STOLA tersebut adalah kelengkapan pelayanan jabatan. STOLA tersebut digunakan oleh Pengkhotbah (Pelayan Firman) dan Liturgist (Paragenda). Launching pemakaian STOLA secara resmi di GKPI akan dilaksanakan pada Minggu, 06 Mei 2012 yad.

Karena minimnya penjelasan STOLA ini sehingga akan menimbulkan multi tafsir yang boleh berujung kepada kesan suka atau tidak suka karena tidak dilandasi alasan teologia dan payung hukum yang tidak jelas, karena Surat Edaran berbeda dengan Surat Keputusan.

Untuk menolong para Pelayan memahami STOLA kami memberikan sumbang saran pemikiran tentang STOLA.


LATAR BELAKANG PENGADAAN STOLA.
1. Munculnya keinginan dan usulan para Pendeta agar GKPI mengusahakan STOLA sebagai alat kelengkapan pakaian pelayanan.
2. Hasil Keputusan Rapat Pendeta XXXV/2007, XXXVI/2009 (PRODUK BPRP PERIODE 2005-2010) dan XXXVII/2011.
3. Hasil Keputusan no.5/SMP-VII-GKPI/XI/2008 tanggal 14 Nopember 2008 (pada periode Pimpinan Pusat 2005-2010) di Pematangsiantar.
4. Hasil Keputusan SAP XVIII/2010 tanggal 24 September 2010 (Lihat Notulen SAP XVIII/2010).
5. Surat Pimpinan Pusat GKPI no.144/A.1/II/2012 tanggal 22 Pebruari 2012 hal: STOLA GKPI (jadi bukan Surat Keputusan dan tidak mengacu kepada Keputusan Sidang Majelis Pusat GKPI).

SEJARAH STOLA.
Menurut kamus Inggris kata Stole=Shawl= selembar kain yang disandang, adalah selendang atau syal atau diindonesiakan Stola. Salah satu istilah pakaian perayaan ibadah di Israel adalah Efod. Baju Kebesaran Imam dan Imam Kepala yang bertugas melayankan persembahan dan kurban dengan “berhiaskan kekudusan” (1Taw 16:28). Pakaian Imam penuh dengan ornament dan simbol religius itulah yang dimaksudkan berhiaskan kekudusan.

Ketika penahbisan Harun menjadi Imam, Musa melakukan penahbisan itu sesuai dengan perintah TUHAN. Penahbisan itu penuh dengan simbol dan tanda yang bertujuan kepada bahwa penahbisan Imam adalah kudus beserta dengan perlengkapan yang dipakainya. Sesudah pembasuhan (penyucian, bdk seperti yang dilakukan Yesus kepada murid-muridNya, Yoh 13:1-20). Musa mengenakan pakaian Imam kepada Harun: Kemeja, Ikat Pinggang, Gamis, Baju Efod, Sabuk Efod, Tutup dada lengkap dengan Urim dan Tumim, Serban, yang dibubuhi Patam Emas (Kel 28:1-36, 39:1-31 dan Im 8:1-36). Bagian-bagian pakaian tersebut adalah simbol-simbol dan tanda-tanda perayaan Ibadah. Pada peristiwa peralihan kanabian Elia dan Elisa, penyerahan jubah (kemungkinan Stole dalam bah.daerah Batak: Ulos) adalah simbolisasi penyerahan wibawa/sahala kenabian (1Rj 19:19).

Stola pada zaman PB disebut “Jubah” (Mrk 16:5, Luk 15:22). Gambaran Jubah dalam pikiran kita menurut Why 6:11 tentang “sehelai jubah” adalah seperti selendang yang dililitkan menutupi tubuh. Apakah sehelai jubah/jubah yang tidak berjahit (Mat 27:35, Mrk 15:24, Yoh 19:23) yang dimaksudkan dengan Stola? ada kemiripannya!! Dalam konteks pemikiran Batak Selendang/Ulos biasaya berjumbai (bahasa batak: rambu). Ukuran Stola pada awalnya adalah sebidang kain dengan ukuran 4 inci (10 centimeter) dan panjangnya 26 kaki (delapan meter). Bahannya dari tekstil/kapas. Bisanya dipakai diatas kedua bahu: Bishop, Imam dan Diaken. Dipakai bersamaan dengan tutup jubah pelayan (Chasuble).

Pada zaman Romawi, Stola dipakai oleh para Abdi Negara. Dibawah Undang-undang Sipil menurut naskah kuno Theodosian (395 AD) Senator dan Dewan diwajibkan memakai Stola bersama dengan jubah/toga kehormatannya. Pada gereja barat Stola diterima pada saat penahbisan jabatan pelayanan itu. Pada zaman Bishop Apollinaris, (abad ke – VI) mengaturkan pemakaian Stola mulai dari bahu kiri mengelilingi leher hingga menjurai ke bawah di depan dada sebelah kanan. Gereja Barat menyebut Stola dengan istilah omophorion . Stola pada zaman PB disebut “Jubah” (Mrk 16:5, Luk 15:22). Tetapi pernah juga Yesus menegur seorang Imam karena memakai pakain Imam sebagai topeng pemerasan (Mat 23:5). Sejarah Stola sangat panjang dan beragam versinya. Gereja di barat sampai saat ini menetapkan cara pemakaian Stola sesuai jabatan pelayanannya :
a. Diaken: Memakai Stola melilitkannya dari atas bahu kiri ke punggung bersimpul di bawah tangan kanan.
b. Imam: Memakai Stola mengelilingi leher di balik punggung dan kedua ujungnya berjurai vertikal di depan (dada).
c.  Bishop: Memakai Stola dengan gaya berjurai dari belakang ke depan. Jabatan pelayanan di GKPI adalah Pendeta dan Penatua, Diakones, dan Evangelist (jabatan penetapan bukan tahbisan) sama dengan Bishop bukan tahbisan. Jabatan Imam disetarakan dengan Pendeta, ditinjau dari sudut ruang lingkup pelayanannya. Gereja Lutheran di Australia/Amerika memakai Stola dari punggung berjurai vertikal ke depan diikat dengan tali benang putih di pinggang. Gereja-gereja di Indonesia yang memakai Stola: GPIB, Methodist, HKI, GKPS, GBKP, GKPB, GMIM,GMIST, GPM, BNKP, dan GKE, GKPI (Tarakan), GKPS. Dalam skala lokal ada beberapa gereja di GKPI yang memakai Stola bagi kollektan dan kelompok koor (stola=penutup jubah), yang latar belakangnya kurang jelas. Di gereja Batak (dhi: HKBP) Jubah Pendeta disebut Baju Parhobas atau Baju Tohonan maksudnya: Hanya Pelayan Partohonan yang berpakaian Baju Parhobas yaitu:Pendeta. Pada awalnya gereja Batak mengaturkan bahwa Baju Parhobas/Jubah/Toga dipakai pada saat pelayanan: Sakrament, Naik Sidi, Pemberkatan Nikah hal itu berlaku dibawah 1950-an. Tetapi kemudian setelah diatas tahun 1950-an Jubah Pendeta dipakai kepada pelayanan yang lainnya . Kemudian Pelayan/Parhobas yang lain menginginkan juga “Jubah” tetapi bukan Baju Penahbisan melainkan hanya demi keseragaman.

FUNGSI DAN MAKNA STOLA.
Salah satu unsur Pakaian Pelayan/Jubah yang dibicarakan adalah pemakaian Stola. Apakah Fungsi dan Makna Stola? Karena STOLA adalah bagian dari Jubah yang berfungsi sebagai tanda “kesetiaan memikul KUK PELAYAN” dan bermakna sebagai “PAKAIAN KEKUDUSAN”.

Di dalam Perjanjian Lama istilah STOLA tidak ditemukan. Namun para Imam dan Imam Kepala memakai baju Efod selama kebaktian. Pertemuan umat dengan Allah dalam perayaan liturgi/ibadah adalah sebuah perayaan yang bermain dengan simbol. Simbol dan tanda dapat dipastikan berperan dalam perayaan liturgi, sebagaimana dalam kehidupan masyarakat. Liturgi terdiri atas bingkai aksi dan bingkai perayaan/ibadah. Aksi atau praksis di dalam hidup sehari-hari adalah liturgi yang sejati (Roma 12:1). Ilmu liturgi berbicara dan mengupas soal perayaan, yang tentunya berkaitan dengan simbol. Karena ada pemahaman masyarakat simbol kena mengena=mempengaruhi) sikap hidup sehari-hari. Tanda dan simbol dapat dibedakan karena pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari. Tanda cukup dilihat, tetapi simbol perlu keterlibatan. Simbol berfungsi menangkap dan menjembatani diri pribadi (masa kini) dan pribadi lain (masa lalu). TANDA DAN LAMBANG DAPAT MENJADI SIMBOL. Benda, gerak, gambar, tanda dan peristiwa dapat menjadi simbol atau yang dihayati sebagai simbol. Dalam liturgi, warna-warni dan pakaian liturgis adalah tanda. Tanda, lambang dan simbol tidak sekedar, seperti itu tetapi dia berbicara melampaui yang ditampilkannnya . Karena pakaian Imam adalah tanda wibawa dan tanggung jawab pelayanan, dan sebagai pakaian kekudusan menghadapi Allah yang Maha Kudus. Dalam tradisi Perguruan Tinggi, pemberian Stola seiring dengan saat wisuda sebagai simbol bahwa Wisudawan/ti diperkenankan mengemban Status kesarjanaan ilmunya dan secara bertanggung jawab bagi keperluan manusia.

Beberapa tinjauan tentang Fungsi dan makna Stola dan hubungannya dengan Jubah Pelayan:
a.     Stola perlu sebagai bagian dari “hiasan kekudusan”.
b.     Warna Stola sesuai dengan Liturgi yang mengingatkan umat tentang thema minggu tersebut.
c.      Alat pelayanan; ikat pinggang untuk menyeka/melap kaki pada acara pembasuhan (Yoh 13:4-5).
d.    Tanda kesetiaan memikul KUK yang diberikan Tuhan Yesus. Seperti Yesus yang setia sampai mati memikul kuk/salib ke Golgotha.
e.     Alat pemersatu dan komunikasi sesama pelayan.
f.      Pakaian kebesaran Hamba menghadap ALLAH yang maha kudus yang hadir pada perayaan Liturgi.
g.     Dipakai pada pelayanan: Kebaktian Minggu/sakramen, Pernikahan, Penguburan (di gereja, di rumah atau di kuburan), Pelayanan Perjamuan Kudus di luar gereja, ibadah lain yang dianggap perlu memakainya: (HUT/Jubileum, peletakan batu I rumah, atau bangunan gereja, peresmian bangunan gereja atau rumah).

PENUTUP.
Demikianlah sumbangan tulisan ini walau kurang sempurna tetapi semoga dapat membantu kita semua memahami fungsi dan makna Stola yang tidak terpisahkan dari pakaian Pelayan yang sering kita dengar dengan istilah: JUBAH atau TOGA yang berlatar belakang dari pakaian tradisi Imam (disebut juga: Vestment).

Pada masa depan hal-hal seperti ini akan kita sempurnakan dan tetap mengacu kepada dasar hukum dan dasar teologia yang jelas.

Kita mau bertanya kepada Kantor Pusat, keuntungan dari “proyek STOLA” ini untuk apa, ya kalau memang ada sasarannya akan kita dukung. Tetapi kalau disebut biaya produk sebesar itu, luar biasa sekali. Sudah perlu ada tender!!! Kantor Pusat harus transparan supaya jangan terkesan ada “perdagangan ala bait suci”.

Mari kita berhitung: 1 set = tiga helai timbal balik, 5 warna dihargai Rp.500.000,00, bahan dari tekstil, ukuran 15 cm x 250 cm, dengan sablon simbol-simbolnya (!?). Dalam surat Pimpinan Pusat menetapkan Pengkhotbah dan Liturgis memakai STOLA, berarti setiap jemaat membutuhkan sedikit-dikitnya 2 (dua) set. Menurut Statistik GKPI 2011 , kalau 1.189 Jemaat memesan 2 (dua) set saja jumlahnya 2.378 dan Resort/Lembaga memesan untuk Pendeta sebanyak 227 set, pada pencetakan I ini, dibutuhkan sejumlah 2.605 set STOLA yang penjualannya bisa mencapai Rp. 1.302.500.000,00 (Satu miliyard, tiga ratus dua juta, lima ratus ribu rupiah).

Wow...!!! Modal berapa?

Tetapi hal-hal seperti ini kayaknya “lumrah” (HARUS DIHENTIKAN SAAT INI) di gereja seperti dulu, Tas Rapat Pendeta; mutu, kualitas dan ukuran yang sama bisa 2 x lipat harganya DARI HARGA TOKO, misalnya! Terima kasih,

Dari Pakaian Seorang Raja hingga Arti Perayaan Palma

Written by  Djanuar
·         font size decrease font size increase font size 
·         Print 
·         Email 
·         Be the first to comment!
Rate this item
·                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  
·         1
·         2
·         3
·         4
·         5
(1 Vote)
Imam mengenakan stola imam dengan simbol mahkota emas, daun palma, tulisan hosana, gandum, serta anggur yang merupakan arti Perayaan Palma, Gereja Santo Bartolomeus, Minggu (1/4). Foto: Diar/MIMBARUmat Gereja Katolik Santo Bartolomeus memiliki cara tersendiri untuk memaknai Perayaan Minggu Palma atau Palem, Minggu (1/4). Satu diantaranya melalui peranan simbol yang menghiasi stola yang dikenakan imam. Di atas stola merah tersebut ada beberapa simbol diantaranya mahkota berwarna kuning emas diapit dua tangkai daun palma atau palem berdiri tegak ke atas, tulisan hosana, dan paling bawah gandum dan anggur. Simbol-simbol tersebut erat kaitannya dengan makna Perayaan Palem atau Palma yakni menyambut kehadiran Yesus sebagai seorang raja dengan lambaian daun palma atau palem.
"Mahkota emas melambangkan Yesus hadir sebagai seorang raja. Daun palma yang berdiri tegak ke atas menyimbolkan umat dengan lambaian daun palma di tangan sambil berseru hosana menyambut Yesus yang hadir dan masuk ke kota Yerusalem. Sedangkan anggur dan gandum merupakan dua materi penting dalam ekaristi yakni hosti dan anggur," ungkap Ketua Seksi Liturgi Paroki Taman Galaxi, Antonius WS, kepadaMimbar.
Stola imam selama perayaan Palma merupakan stola baru yang sengaja disiapkan Seksi Liturgi. Stola ini merupakan sumbangan umat yang diperoleh para misdinar saat menggelar acara bertajuk Ministeria Pro Ecclesia tahun 2011. Anton mengungkapkan untuk perayaan tahun ini, Seksi Liturgi, menyiapkan dua set stola merah baru untuk imam. Satu set, 3 stola, untuk Perayaan Palma, dan 1 set lainnya untuk Jumat Agung nanti.
Jubah atau pakaian yang imam kenakan saat perayaan misa juga memiliki makna historis. Jubah awalnya dikenakan oleh seorang raja sebagai simbol kebesaran, kemudian Gereja Katolik mengadopsi pakaian tersebut untuk imam sebagai simbol kehadiran seorang raja dan in persona Christi (kehadiran Kristus) di dunia.Karena itulah, jubah untuk imam biasanya dibuat megah.
"Imam yang mengenakan stola melambangkan in persona Christi . Oleh karena itu pakaian imam dibuat -wah," tambahnya.
"Jubah imam awalnya berasal dari pakaian yang dipakai oleh raja-raja bangsa Romawi. Kemudian, Gereja mengadopsi pakaian tersebut untuk seorang imam," Ungkap Tri, Guru Agama Katolik di salah satu SMA Katolik di Bekasi.
Kini, pakaian imam sudah banyak ragamnya baik desain, warna, maupun motifnya. Namun, penempatan ragam tersebut tidak bisa sembarangan. Warna dan motif disesuaikan dengan kalender liturgi.








SIMBOL-SIMBOL liturgi
S IMBOL- S IMBOL G EREJAWI D ALAM L ITURGI[I]


1. TOGA, BEF, CLERGICAL Collar & STOLLA

Kebanyakan gereja-gereja Kristen di Indonesia mengenal semacam Pakaian Departemen, yang mereka ambil-alih dari Gereja-gereja partner mereka di Barat. Bentuknya hampir sama seperti toga (= gaun) hitam, yang dipakai dengan "BEF" (dasi putih) dan dengan atau tanpa stolla (= kain atau pita lebar dan panjang). Fungsinya tidak begitu jelas. Tetapi dalam praktik Gereja-gereja ini, secara sadar atau tidak sadar menganggapnya sebagai Pakaian Departemen atau Pakaian Liturgis resmi. Oleh karenanya, setiap orang yang memangku jabatan gerejawi harus memakai pakaian jabatannya pada saat ia melayani dalam pelayanan-pelayanan resmi. Hal ini hanya berlaku untuk Pendeta. Untuk Penatua dan Diaken yang umumnya dianggap "kurang setara" dengan Pendeta dibebaskan dari kewajiban di atas.


Pakaian Departemen ini telah lazim dalam Gereja-gereja Kristen Katolik dan Kristen Protestan Reformasi, sehingga tidak dirasakan lagi sebagai barang / tradisi asing diimpor dari Barat. Namun demikian, pada beberapa dasawarsa terakhir ini ada gereja, antara lain GPIB, yang tidak puas lagi dengan bentuk pakaian jabatan ini dan ingin menggantikannya dengan bentuk lain. Sayangnya, ketidakpuasan para pemimpin gerejawi di GPIB ini lebih banyak disebabkan alasan-alasan kultural dan bukan alasan teologis. Dengan sosialisasi / lokakarya ini, GKSBS ingin meninjau masalah ini dari sudut pandang teologis yang nantinya bermuara pada pengambilan keputusan sekaligus pendirian GKSBS dalam soal ini.


A. Jemaat-jemaat Perjanjian Baru tidak mengenal Pakaian Departemen

Jemaat Perjanjian Baru tidak mengenal Pakaian Departemen. Pelayanan-pelayanan khusus pada waktu itu memakai pakaian-pakaian biasa, seperti yang dipakai oleh anggota jemaat publik, yaitu pakaian Yahudi, pakaian Romawi dan pakaian Yunani.

Pada tahun 380 agama Kristen resmi menjadi Agama Negara. Kaisar Theodosius mengangkat para Klerus (Kantor gerejawi pada saat itu) setara dengan kantor pemerintahan. Mereka mendapat fasilitas istana, pakaian jabatan, tongkat, cincin dan tanda kebesaran lain. Dalam ibadah, mereka memakai pakaian khusus (= pakaian liturgis), yang berbeda dengan pakaian anggota jemaat yang lain. Pakaian khusus ini kemudian berkembang menjadi Pakaian Departemen gerejawi yang indah dan mewah, seperti yang masih dipakai sampai sekarang oleh para Klerus dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Yunani.

Bentuknya berbeda-beda, yang satu lebih indah dan lebih mewah dari yang lain. Juga jumlahnya tidak sama. Untuk perayaan Ekaristi umpamanya, Imam Gereja Ortodoks Yunani lebih banyak memakai "pakaian liturgis" dari Imam Gereja Katolik. Semuanya tidak dapat dibahas di sini. Misalnya, Pakaian Departemen dalam Gereja Katolik terdiri dari " amictus "(= kain bahu dari lenan, dihiasi dengan salib yang disulam dan diikatkan pada dada, di atas gaun-Missa yang sebenarnya)," alba "(= kemeja dari lenan, panjangnya sampai di kaki), " stola "(= pita lebar yang dipakai pada alba , panjangnya sampai ke lutut), " manipulus "(= pita sutra, tidak begitu lebar, digantungkan pada tangan kiri)," pluviale "(= gaun prosesi gerejawi, sebelumnya hanya dipakai oleh para Klerus rendah, kemudian juga oleh Klerus tinggi) dan " vesti sacerdotalis "(= gaun Missa yang sebenarnya) / toga.


B. Para Reformator menentang keberadaan Pakaian Departemen ini

Para Reformator (Luther dan Zwingli) menentang keberadaan Pakaian Departemen ini, karena ia berhubungan erat dengan Missa Gereja Katolik. Menurut mereka, Pakaian Departemen an sich (pada dirinya sendiri tidak memiliki arti.

Sesuai dengan itu, Martin Luther (pada tahun 1524) menganjurkan agar kantor-kantor gerejawi menjauhkan diri dari pakaian-pakaian indah dan mewah dan supaya mereka jangan menganggap pakaian yang mereka pakai lebih suci dari pada pakaian biasa yang lain. Luther berkata, bahwa Tuhan tidak lebih berkenan kepada Kantor gerejawi yang berpakaian jabatan dari Kantor gerejawi yang tidak memakai pakaian jabatan.

Sikap Luther dan pemimpin-peminpin yang lain pada waktu itu tentang pakaian jabatan tidak begitu radikal. Sampai dengan tahun 1536 pelayanan Perjamuan Kudus tetap dilaksanakan dengan mengenakan Pakaian Departemen ala Katolik. Tetapi Luther beranggapan, bahwa "lelucon yang suci" itu akhirnya akan hilang dengan sendirinya.

Pada tahun 1523, ketika Martin Luther berkotbah di Wittenberg, ia memakai gaun dokternya (Toga Hitam), yang akhirnya lembat laun menjadi terkenal di seluruh Jerman, Perancis dan Swiss. Bahkan di Nederland, Pendeta-pendeta Protestan menggantikan Pakaian Departemen Gereja Katolik dengan Toga hitam yang disebut Tabberd .

Akhirnya, pada pertengahan abad ke-17 penggunaan Pakaian Departemen dalam Gereja Protestan telah habis sama sekali. Tapi masalah baru muncul tatkala disadari banyak keluhan yang muncul terhadap pakaian yang dikenakan oleh Pendeta-pendeta Protestan. Banyak Pendeta Protestan yang mengikuti pergantian mode pakaian dan memakai rupa-rupa variasi gaun (rok) dan leher baju Perancis. Mereka memakai rambut palsu atau topi. Banyak juga Pendeta yang memakai pakaian parlente (gagah) dan lebih "duniawi" dan "gila mode" dari anggota jemaat biasa. Hal inilah yang kemudian mendorong Gereja-gereja kembali menggunakan Pakaian Departemen Resmi untuk para pendetanya.

Dari Nederland, tabberd atau toga ini diexpor ke Indonesia. Hal ini kemudian diikuti oleh badan-badan Zending lain dari Jerman, Swiss dan Amerika sehingga pada gilirannya kebanyakan Gereja Protestan di Indonesia telah memiliki semacam Pakaian Departemen, yaitu toga hitam.


C. Pakaian Departemen: Suatu Tinjauan Kritis-Teologis

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut beragam. Pada abad pertengahan, penggunaan pakaian jabatan adalah suatu keharusan, karena pada waktu itu masing-masing kelompok memiliki pakaian khasnya sendiri-sendiri. Para perwira memakai pakaian indah dari satin dan beludru, orang-orang desa berbeda pakaiannya dengan orang kota, penembak dan pedagang juga memakai pakaian khusus. Hal itu nampak dalam lukisan-lukisan produk masa itu. Bila kemudian ada toga sebagai Pakaian Departemen untuk Pendeta, maka patutlah disadari bahwa pakaian itulah yang paling tepat pada waktu itu sebagai pembeda dengan golongan-golongan yang ada pada masa itu. Maka dalam lukisan para reformator dan pengkotbah pada waktu itu, mengenakan toga .

Setelah toga dikhususkan untuk Sarjana dan Magistrant, maka toga Pendeta diganti dengan pakaian lain, yaitu rok, BEF, mantel, celana pendek dengan gesper. Motivasi yang melatarbelakangi sebenarnya bahwa Pakaian tersebut dipandang lebih gagah dari segala penemu mode pakaian. Tetapi kemudian, pada tahun 1854, Sinode Den Haag memutuskan bahwa Toga harus kembali dipakai oleh para Pendeta.

Menururt Faber, persoalan Pakaian Departemen kurang ditinjau dari sudut pandang Teologis. Menurutnya, Pakaian Departemen tidak memiliki kuasa penyelamatan. Tetapi, penyia-penyiaan Pakaian Departemen dapat bersumber pada sesuatu yang kurang beres. Dan justru hal inilah yang seharusnya diselidiki. Menurut Faber, reformasi Martin Luther tidak meniadakan Pakaian Departemen, ia memberikan kebebasan penuh bagi pengikutnya dan Gereja untuk menentukan sikapnya terhadap Pakaian Departemen.

Menurut Faber, pakaian bahkan setiap pakaian memiliki bahasanya sendiri. Itulah rahasia mode. Maksud sebenarnya yang tersembunyi dalam hati seseorang dapat diketahui dari pakaian yang dikenakannya. Antara Psikhe dengan pakaian memiliki hubungan yang erat. Bukan manusia saja yang memakai pakaian, tetapi pakaian juga memakai manusia. Demikian juga, pakaian memiliki pengaruh sugestif pada daerah sekelilingnya, dalam hal ini pada jemaat. Itulah sebabnya, Gereja selama masih memiliki "jabatan", tidak dapat membebaskan dirinya dari Pakaian Departemen. Dari sinilah Calvin merekomendasikan warna hitam untuk toga. Tetapi Tepatkah warna hitam untuk Pakaian Departemen gerejawi?


D. Pakaian Departemen: Apa Warna Yang Paling Teologis?

Benarkah secara teologis, Pakaian Departemen berwarna hitam? Bukankah warna hitam menyebabkan Perayaan Perjamuan Kudus sering kali bergeser; tidak lagi dihayati sebagai sebuah perayaan tetapi lebih sebagai perjamuan duka? Bukankah warna ini ikut menggeser dasar pengajaran Gereja, bahwa kematian Kristus harus disambut bukan dengan kesedihan, tapi sebagai berita kesukaan? Apakah Toga hitam cukup menginsafkan Gereja-gereja kita akan sifatnya yang rohani? Tentu tidak. Warna hitam saja telah membuat kita agak takut. Lain dari pada itu, pakaian Toga hitam adalah pakaian Sarjana dan Magistrat. Ia adalah pakaian akademis yang telah masuk ke dalam gereja, karena ia dianggap gagah. Toga hitam yang adalah pakaian hakim telah menyebabkan ibadah Minggu terkesan sebagai ruang pengadilan, dan bukannya ruang persekutuan hangat satu keluarga, yaitu persekutuan anak-anak Allah Yang Maha Pengampun.

Dengan demikian, warna hitam tidak cocok untuk Pakaian Departemen. Memang kotbah adalah uraian ilmiah (akademis-ilmiah) tapi paling maksimal hanya dapat dipertahankan untuk pemberitaan Firman. Tidak cocok untuk pelayanan Sakramen. Warnanya yang hitam tidak cocok dengan sifat perayaan itu. Maka warnanya harus diganti dengan warna lain. Misalnya putih, merah muda atau ungu.


E. Pakaian Departemen: Bagaimana dengan Penatua dan Diaken?

Pernah terjadi di Amsterdam diberlakukan Pakaian Departemen untuk Pendeta, Penatua dan Diaken. Menurut Kuyper, pakaian jabatan tidak bisa berbeda. Jika tidak demikian, akan tercipta hierarkhi dalam gereja: Pendeta dengan toga lengkap, Penatua dengan toga setangah lengkap dan Diaken dengan toga seperempat lengkap. Karena itu, perlu dibuatkan juga pakaian jabatan untuk Penatua dan Diaken.


2. Sakramen [ii]

Skramen adalah tanda terlihat yang menunjukkan penghargaan yang tidak terlihat. Karya Yesus Kristus-lah yang dilambangkan dalam sakramen itu. Dalam hidup, kematian dan kebangkitan-Nyalah menjadi nyata bagi umat manusia akan penghargaan dan keamanan bersumber pada Allah. Sakramen adalah suatu tanda lahiriah (Symbolum) yang dipakai Allah untuk memeteraikan dalam batin kita janji-janji dan kasihnya kepada kita. Sakramen adalah tanda lahiriah realitas rahmat Allah yang kita sambut. Meskipun Firman Allah sudah cukup jelas dan pasti, akan tetapi iman kita sering terombang-ambing dan mudah goyah, maka kerahimanNya yang tidak bertepi menyesuaikan diri dengan daya paham kita sehingga Ia tidak berkeberatan bila kita menggunakan simbol yang memakai unsur bendawi, yang membawa kita ke kedalaman cintaNya yang misteri.

Sakramen dapat menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya jika ada guru batin, yaitu Roh Kudus. Hanya karena kekuatan Roh Kudus itulah hati kita tertembus serta perasaan kita tergerak dan melalui sakramen terbukalah pintu jiwa kita.


A. Baptisan

Orang yang akan menerima baptisan tidak harus memahami sungguh-sungguh arti baptisan yang diterimanya. Sebab bukan iman dan pengertian kita yang mendalam tentang baptisan yang membuat baptisan efektif, melainkan janji Allah. Baptisan adalah tanda ditetapkan Allah untuk memateraikan janjiNya.

Baptisan membawa seseorang untuk masuk ke dalam kesatuan dengan Kristus. Dengan baptisan inilah kita dipersatukan dengan seluruh Tubuh Kristus. Oleh karenanya, dalam tradisi gereja mula-mula, setelah seseorang dibaptis, maka ia bisa ikut Perjamuan Kudus. Baik ia masih kecil atau sudah dewasa secara umur. Baptisan dan Perjamuan Kudus adalah tak terpisahkan. Mulai abad ke-4, ritus baptisan dianggap sebagai eksorsisme dilanjutkan dengan peminyakan, penumpangan tangan dan kemudian Perjamuan Kudus. Tetapi sebelum itu, seseorang yang sudah dibaptis bisa mengikuti Perjamuan Kudus.

Baptisan merupakan tanda dan bukti pembersihan dosa kita, baptisan seperti pemberian surat bermaterai yang menyatakan kepada kita bahwa segala dosa kita sudah dihapus dan ditiadakan sedemikian rupa hingga tidak bakal muncul lagi dihadapannya.

Air baptisan melambangkan kubur dan rahim. Hidup lama telah berlalu (mati) dan hidup baru dimuliakan (lahir). Dengan kata lain, lahir baru atau hidup baru.


B. Perjamuan Kudus
Secara teologis, seseorang yang sudah dibaptis layak dan bisa ikut mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus. Anak-anak yang sudah layak dibaptis, (karena orang tuanya mampu melihat janji Allah dengan mata imannya) adalah anak-anak yang sudah layak ikut Perjamuan Kudus.

Perayaan iman Kristen dimulai dari peristiwa Paskah. Yesus bangkit dari kematian dan mengalahkannya. Gereja tidak hanya dipanggil untuk memberitakan kebangkitan Kristus ke dunia tapi juga menghadirkan kembali peristiwa keamanan itu hingga menjadi aktual di sini dan kini. Hal itu diwujudkannyatakan dalam perayaan Perjamuan Kudus. Yesus merelakan tubuh dan darahnya untuk keselamatan manusia.

Makna Perjamuan Kudus adalah: (1) Tindakan berbagi satu persekutuan. Di dalam Perjamuan Kudus, persekutuan yang erat diaktualisasikan, baik federal sebagai sesama Tubuh Kristus maupun federal Tubuh (jemaat) dengan kepalanya (yaitu Kristus Tuhan). Menurut Calvin; makan secara jasmani dalam Perjamuan Kudus menunjukan makan secara rohani untuk penguatan jiwa karena dipersatukan dengan Kristus. Kita benar-benar menjadi satu dengan tubuh dan darahnya. (2) Perjamuan Kudus adalah perayaan-pengingatan (anamnesis) kabar keselamatan bukan hanya diproklamirkan tetapi sungguh menjadi nyata. Apa yang dialami para murid pada malam Perjamuan Terakhir itu kita hadirkan kembali di sini dan kini. Apa yang diharapkan para murid dulu dan di sana, sekarang kita harapkan lagi kini dan di sini. ( 3) Perjamuan Kudus juga adalah suatu eschaton yaitu suatu pengharapan bahwa Perjamuan Kudus itu akan dilanjutkan dalam Perjamuan dengan Tuhan di kerajaannya yang kekal.


3. KAIN-KAIN WARNA LITURGIS [iii]

Warna-warna gerejawi telah lama digunakan dalam ruang ibadah kita, terutama untuk taplak meja, kain di mimbar ( antependium ), kain panjang di kayu salib (stolla besar) dan stolla yang berlaku Pelayanan gerejawi. Gereja memakai kain dalam warna-warna yang bergantian sesuai kalender gerejawi.

Putih
Adalah lambang dari warna terang, cahaya lilin, warna untuk peran malaikat Allah, para kudus dan warna untuk Kristus yang dimuliakan. Warna yang melambangkan kekudusan dan kebersihan. Karena itu warna ini digunakan dalam raya yang berkenaan dengan Kristus, misalnya Natal, Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus, dan masa raya kesukaan misalnya dalam pelayanan Baptisan dan Perjamuan Kudus. Digunakan juga dari masa Natal sampai Minggu sebelum Epifania (6 Januari) dan hari raya Paskah sampai sebelum minggu Pentakosta.

Ungu (lebih tepatnya violet)
Adalah warna tergelap dalam warna gerejawi yang menunjukan penyesalan dan pertobatan yang sunggu-sungguh. Digunakan pada masa 40 hari sebelum Paskah (Minggu sengsara) dan masa-masa menjelang Natal (Minggu Adventus).

Merah
Adalah warna api. Lambang Roh Kudus yang penuh kekuatan. Maka digunakan pada Perayaan Pentakosta. Warna merah juga melambangkan warna darah, kesetiaan sampai mati, iman yang berapi-api sehingga digunakan dalam peringatan Reformasi, penahbisan rumah ibadah, sidhi, peneguhan Pendeta, Diaken dan Penatua. Juga pada peringatan hari Pekabaran Injjil, pengutusan pengijil dan hari-hari raya ekumenis.

Hijau
Adalah warna komplemen dari merah. Melambangkan penyembuhan, ketenangan dan pertumbuhan iamn. Merupakan warna pengharapan. Hijau memberitakan kemurahan hati, keamanan dari Allah yang menyembuhkan dan memperbaharui. Digunakan pada hari Minggu Trinitas (Minggu pertama sesudah Pentakosta, kecuali masa sengsara, adventus, dan hari raya Kristen lainnya.

5. Merah Muda

Rose, adalah perlemahan dari violet (ungu tua), lambang penyesalan dan pertobatan yang tertahan. Maksudnya, sengsara bisa sementara diganti dengan senyuman dalam menyongsong Natal dan Paskah. Digunakan pada Minggu adventus ke-3 dan Minggu sengsara ke-5.

6. Hitam

Adalah warna liturgis yang paling kuno. Lambang keputusasaan. Warna ini sudah tidak dipakai lagi. Butuh juga dipertanyakan tentang warna liturgis yang dikenakan Pendeta yaitu Toga hitam. Pemberitaan firman adalah pemberitaan Kristus yang telah menang, sudah selayaknya mereka dibebaskan dari warna kedukaan. Bahkan dalam pelayanan duka (misalnya pelayanan pemakaman jenazah) sekalipun, sebenarnya warna violet lebih baik dari hitam, karena kita sudah diperbolehkan hidup dalam kemenangan Kristus.


4. SIMBOL-SIMBOL DALAM PELAYANAN NIKAH

Pernikahan adalah hal sosiologis dan sekaligus teologis. Sahnya pernikahan bukanlah ketika mereka mengikrarkannya dalam ibadah, melainkan ketika kedua mempelai mengikrarkannya di hadapan orang tua, para saksi, Majelis Gereja dan Pendeta (biasanya dilaksanakan di Konstituri).

Dalam pelayanan Nikah, ada beberapa simbol yang digunakan. Simbol ini digunakan untuk menjelaskan arti khusus sbb:

a. Lainnya berjabat tangan dalam pengucapan janji nikah.
Melambangkan kesungguhan, komitmen dari sepasang kekasih untuk hidup bersama dengan kesetiaan.

b. Cincin Pernikahan
Adalah symbol pemberian cinta murni yang tidak berkarat yang diberikan oleh seorang suami kepada istrinya dan dari seorang istri kepada suaminya. Lingkaran cincin yang tidak memiliki akhir adalah lambang cinta cusi tersebut tidak memiliki arti dan berlaku seumur hidup.

c. peneguhan Nikah dan Berkat dalam Pernikahan
Peneguhan dan bukan konfirmasi nikah, dilayankan Gereja karena di Gerejalah tempat Allah menyalurkan berkatnya. Gereja dalah tempat dimana berkat Tuhan disalurkan. Gereja tidak menikahkan, tetapi meneguhkan pernikahan dengan berkat Allah yang disalurkan oleh Gereja. Pada prinsipnya, peneguhan nikah bukan dilakukan oleh manusia tetapi nikah diteguhkan oleh berkat yang tersedia di Gereja. Pernikahan di luar Gereja adalah sah, tapi tidak mendapatkan berkat Allah, akrena Allah menyampaikan berkatnya melalui pelayanan Gereja.

d. Pemberian Alkitab
Adalah simbol pentingnya Alkitab dalam hidup berumah tangga. Kitab Suci menjadi terang dan pelita bagi perjalanan hidup berumah tangga.

e. Pemberian Kain dan Beras
Kain dan beras adalah lambang pemberian berkat Allah secara jasmani.

f. Sungkeman
Adalah lambang penghormatan, ucapan terima kasih dan sekaligus berpamitnya kedua mempelai kepada orang tua mereka, untuk memulai hidup berkeluarga yang mandiri. Mereka telah membentuk keluarga baru


Catatan kaki:


[I] Tentang Pakaian Departemen, tulisan ini banyak tergantung dan bersumber dari buku karangan DR.J.Lch. Abineno, Seputar Theologia praktika I, BPK GM, 1968, hlm. 134-143.


[Ii] Bagian ini adalah hasil rekomendasi Tim Liturgi GKSBS pada sidang Sinode GKSBS ke-7 di Belitang. Hasil rekomendasi Tim Liturgi disetujui oleh konferensi dan direstui untuk disosialisasikan. Sayang hal ini tidak ditindaklanjuti secara serius oleh MPS Periode Sidang VII. Segala referensi yang dipakai dapat dilihat dalam: Rekomendasi Liturgi GKSBS di masa Depan.



[Iii] Juga di dalam Sumber Air Hidup GKSBS 2006, halaman 53-54, dan 60.